KERIPIK DAN STIK LAGI KOSONG, BUKU-BUKU MASIH TERSEDIA

05 August 2014 | By admin in UMUM | No Comments Yet

Saya Syamsuddin Rudiannoor atas nama Barsel Promo selama bulan Juli 2014 atau selama bulan ramadhan 1435 Hijriyah tidak memproduksi aneka keripik dan stik. Dengan demikian maka stok di gerai kami saat ini kosong. Oleh karena itu saya mohon maaf.

 

Kekosongan ini terjadi sampai akhir Agustus 2014 dan Insya Allah berproduksi lagi pada awal September 2014.

 

Toko kami “SIMPANG” dan Barsel Promo masih  memasarkan buku-buku lokal mengingat stok yang masih tersedia.

 

Sekian, atas perhatiannya diucapkan terima kasih.


BUKU NAN SARUNAI USAK JAWA

04 August 2014 | By admin in KEBUDAYAAN | No Comments Yet

 

I

            Buku Daerah Kalteng
No
Judul
Topik Bahasan
Harga buku
1
Sejarah “Nan Sarunai Usak Jawa”
Runtuhnya negara Nan Sarunai oleh agresi Majapahit
Rp. 30.000,-
 

NAN SARUNAI USAK JAWA (Negara Dayak Dihancurkan   Bangsa Jawa)  (1280 – 1700)

Penulis : Syamsuddin Rudiannoor

Katagori : Sejarah Daerah Kalimantan Selatan dan Tengah

Penerbit : Barito Raya Pro Buntok bekerjasama dengan penerbit WR Yogyakarta

Jumlah halaman:    89 halaman

Harga Jual : Rp. 30.000,-

Kualitas cetak: Offset diatas kertas HVS 70 gram

Tahun Penerbitan: Cetakan I Juli 2013

Lokasi Pemasaran: Barsel Promo, Jalan Panglima Batur Nomor 7 Buntok

Kontak telepon/sms: 0813 4960 6504

Buku sederhana ini merupakan sejarah lokal yang ditulis oleh Syamsuddin Rudiannoor dengan proses pengumpulan bahan sejak tahun 1995 sampai 2002.

Bagian Pertama buku ini telah dimuat oleh surat kabar Palangka Raya “Media Kalteng” dalam edisi antara tanggal 27 Juni  sampai dengan 4 Agustus 2002.

Nan Sarunai Usak Jawa merupakan proses panjang keberjalanan sejarah masa lalu suku Dayak Maanyan yang dimulai sejak domisili mereka yang paling awal di Murung (Ujung Murung) Banjarmasin sekitar tahun 1200.

Setelah Banjarmasin ditinggalkan diteruskan ke Kayu Tinggi (Kayu Tangi) di sekitar Banjarbaru-Martapura, sampai akhirnya jejak berhenti sebentar di Kedaton Tane Ngamang Talam di sekitar Candi Agung (Tumpuk Uhang) di kota Amuntai.


KERIPIK DAN STIK LAGI KOSONG, BUKU-BUKU MASIH TERSEDIA

04 August 2014 | By admin in UMUM | No Comments Yet

Saya Syamsuddin Rudiannoor atas nama Barsel Promo selama bulan Juli 2014 atau selama bulan ramadhan 1435 Hijriyah tidak memproduksi aneka keripik dan stik. Dengan demikian maka stok di gerai kami saat ini kosong. Oleh karena itu saya mohon maaf.

 

Kekosongan ini terjadi sampai akhir Agustus 2014 dan Insya Allah berproduksi lagi pada awal September 2014.

 

Toko kami “SIMPANG” dan Barsel Promo masih  memasarkan buku-buku lokal mengingat stok yang masih tersedia.

 

Sekian, atas perhatiannya diucapkan terima kasih.


SYAMSUDDIN RUDIANNOOR, Budayawan Lokal Kalteng dan Karya-karyanya

19 July 2014 | By admin in UMUM | No Comments Yet

Diantara langkanya budayawan yang ada di Provinsi Kalimantan Tengah, SYAMSUDDIN RUDIANNOOR (Rudi) adalah satu sosok yang telah mempublikasi karya-karyanya. Karya yang dipersembahkannya berupa karya tulis yang dibukukan dan dijual secara mandiri. Dia juga membuat oleh-oleh khas Kalimantan Tengah berupa Keripik Lambiding (kelakai), Keripik Paku, Stik Lambiding, Stik Paku, Stik Nanas, Stik Ikan, Keripik Putri Malu Air, Keripik Ikan dan beberapa makanan ringan lainnya.

.

Riwayat Hidup

Syamsuddin Rudiannoor alias Rudi lahir di Buntok, ibukota Kabupaten Barito Selatan, Provinsi Kalimantan Tengah, pada hari Kamis tanggal 30 Mei 1963. Ayahnya Abdul Gani bin Mamat bin Katu, asal Kuala Kapuas Seberang, Kabupaten Kapuas. Beliau pensiunan PNS, mantan Kepala SMP Negeri 1 Buntok, Kepala SMP Negeri 2 Kuala Kapuas dan SMP Negeri Dahirang. Ibunya Lamsyah binti Amir Hasan bin Inggar Bahan asal desa Kalahien, Kabupaten Barito Selatan, juga pensiunan PNS, mantan Kepala SKKP Negeri Buntok, Kepala SMP Negeri 2 Buntok dan Kepala SKB Kuala Kapuas.

 

Rudi lahir sebagai sulung dari 7 bersaudara, adik kandungnya terdiri dari: Dra. SRI UTAMI (Yuyut, tinggal di Belgia), TRIO HARTO (Weweng, domisili di Buntok), Dra. NURILLA AGUSTINA (Lila, PNS Pemda Kotawaringin Timur di Sampit), HIDAYAT SUBHAN (Swasta di Kuala Kapuas), APGRIO KARTANO (Ateng, Guru SMP Negeri 1 Kuala Kurun) dan SITI FITRIATI (Pipit, PNS Pemda Kabupaten Kapuas di Kuala Kapuas)..

Menikah tahun 1990 dengan Wiwik Setyowati binti Djono, asal Madiun, dikaruniai dua orang putra bernama Faizar Rudiannoor (23) dan Muhammad Irfan Rudiannoor (17)..

Riwayat Pendidikan: Rudi bersekolah TK 1969-1970 di Buntok, SD Negeri III Buntok 1971-1976, SMP Negeri 1 Buntok 1977-1979, kelas 3 pindah ke SMP Negeri 2 Kuala Kapuas 1979-1980, SMA Negeri 1 Kuala Kapuas 1980-1983, D III Akademi Pariwisata “Satya Widya” Surabaya Jurusan Perhotelan 1983-1986 dan S-1 Sosiologi Tahun  2004.

.

 

Pengalaman Kerja: 1). Mulai 1989-1992 sebagai Staf Dinas Pariwisata Propinsi Kalimantan Tengah di Palangka Raya. 2). 1992-1996 Pelaksana Kepariwisataan Pemda Kabupaten Kotawaringin Barat di Pangkalan Bun. 3). 1996-2000 Kaur Umum pada Dinas Pendapatan Daerah Kabupaten Kotawaringin Barat di  Pangkalan Bun.  4). 2001-2003  staf  Dinas  Informasi, Komunikasi dan Pariwisata Kabupaten Barito Selatan di Buntok.  5). 2004-2008 Kasi Bina dan Pengembangan Sarana Wisata Dinas Informasi, Komunikasi, Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Barito Selatan.  6). 2008-2010 Kasubbag Penyusunan Program Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Barito  Selatan.  7). 2011 – Juli 2013 Kasi Usaha dan Produk Pariwisata Dinas Pemuda, Olahraga, Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Kapuas.  8). 1 Agustus 2014 Pensiun dini dari PNS.

.

http://1.bp.blogspot.com/-c0BZpX5iA14/U2m0Qd1xNdI/AAAAAAAABdA/3VUEIODZ0kw/s1600/FILE0001.JPG

Pengalaman Menulis: 1). Juara I Sayembara Mengarang Prosa Hari Pahlawan ke – 36 Tahun 1981 Tingkat Kabupaten Kapuas.  2). Juara II Sayembara Mengarang Hardiknas Tingkat Propinsi Kalimantan Tengah Tahun 1982. (Kanwil Depdikbud).  3). Penerima Sertifikat Lomba  Karya  Tulis  Ilmiah Keagamaan Tingkat Nasional untuk Mahasiswa dari IMM-UGM Yogyakarta Tahun 1987.  4). Pendidikan  Pers dan Teknik Penulisan Karya Ilmiah Populer di Sema Fisip  Universitas Sunan Giri Surabaya tahun 1987.   5).  Penerima Penghargaan  Sayembara Karya Tulis Ilmiah Populer Nasional dari Majalah Amanah Jakarta Tahun 1988.  6). Koresponden / Perwakilan Kalteng Tabloid Pariwisata PESONA INDONESIA  Jakarta Tahun 1990-1992. 7). Koresponden / Perwakilan Kalteng Tabloid Pariwisata  WARTA PESONA  Bandung  Tahun 1991-1993.  8). Penulis tetap Bulanan Pariwisata  GRAHA WISATA Jakarta tahun 1991-1993. 9). Penulis  cerpen  temporer untuk harian ibukota (Sentana,  Pos  Kota,  Terbit) tahun 1983-1990.   10. Penulis Kolom  dan  Opini  untuk  Koran  Kalselteng hingga sekarang.

.

Karya Tulis yang sudah dibukukan dan dipasarkan adalah:  1) Sejarah Kalimantan Tengah I berjudul NAN SARUNAI USAK JAWA (Negara Dayak Dihancurkan Bangsa Jawa, ). 2) Sejarah Kalimantan Tengah II berjudul GIGIR GAMPAR BARITO RAYA, Amuk 1860-1905. 3). Wayang Kalteng berjudul PUNAKAWAN DALAM SATIRE DAYAK BESAR.  4). Legenda Kabupaten Barito Timur berjudul LIANG SARAGI, Semuanya karena Cinta.  5). SEKS BEBAS, PORNO-AKSI dan ULAMA BIRAHI.

.

Masih akan menyusul menerbitkan beberapa buku baru diantaranya: 1) MOZAIK KEPARIWISATAAN KALIMANTAN TENGAH. 2) Kumpulan Cerpen berjudul BUNTOK, Bungas dan Montok. 3) WADIAN, Sejarah, Mitos dan Perkembangannya. 4) BUTA MATA, BUTA HATI.  5) Sejarah BELANDA DI BUNTOK.

.

Alamat rumah Rudi adalah Jalan Panglima Batur No.7  RT 01 RW 01 Buntok 73711, samping kanan Kantor Kejaksaan Negeri Buntok, nomor kontak / HP. 081 349 606 504.
.
Sekian dan terima kasih.


PUNAKAWAN DALAM SATIRE DAYAK BESAR (Wayang Buntok)

08 July 2014 | By admin in KEBUDAYAAN | No Comments Yet
 

RESENSI BUKU

Penulis : Syamsuddin Rudiannoor

Katagori : Kumpulan cerita pendek versi wayang lokal Kalimantan Tengah

Penerbit : Barito Raya Pro Buntok bekerjasama dengan Penerbit WR  Yogyakarta

Jumlah halaman :  366 halaman

Harga jual: Rp. 120.000,-

Kualitas cetak: Offset diatas book paper

Tahun Penerbitan: Cetakan I  September 2013

Lokasi Pemasaran: Barsel Promo, Jalan Panglima Batur Nomor 7 Buntok

Kontak telepon/sms:      0813 4960 6504

WAYANG BUNTOK…, hah APAAN TUH..?

Antara tahun 1968 sampai 1975, Buntok masih kota sangat kecil yang sederhana. Kala itu sarana informasi rakyat yang paling moderen baru berupa pesawat radio dan sedikit tape recorder. Tidak ada pesawat televisi. Listrik masih belum PLN.  Mobil masih tidak ada. Sepeda motor termasuk vesva masih berbilang jari. Siaran RRI merupakan siaran idola seluruh rakyat. Dus, dalam suasana seperti itu, tumbuhlah saya sebagai seorang anak bawang berusia 5 sampai 12 tahun.

            Dalam kebersahajaan hidup Buntok tahun-tahun tersebut, terkenanglah saya akan  jasa almarhumah nenek saya Jawiah binti Lelang bin Karuang bin Rangkau. Kenapa demikian? Karena dari mulut tua beliau, saya mendengar secara berulang-ulang banyak kisah atau ceritera rakyat yang cukup variatif pokok bahasannya. Pendeknya, ada ceritera kancil dan pak tani. Ada kisah kura-kura dan burung pelatuk. Ada Sangumang dan keluarganya. Ada kisah Batara Gangga. Ada ceritera Supak dan Gantang. Dan yang terakhir saya ingat adalah kisah lucu yang beliau namakan Babagongan  atau  Wayang Epat.

            Kembali ke suasana Buntok tahun 1968-1975, hiburan rakyat yang hidup kala itu adalah musik-musik RRI plus sedikit seni  tradisional. Dan salah satu seni tradisi itu adalah  pagelaran pentas wayang kulit. Terus, wayang kulit yang dimaksud adalah Wayang Banjar (atau  wayang Jawa yang dimainkan oleh orang Banjar (?)). Pendek kata, seni yang dominan dimainkan di pahuluan Barito kala itu adalah seni pesisir yang dibawa orang Banjar. Sampai kemudian, tercatat ada dua*) orang lokal yang berhasil menyalin kaji dan menjadi dadalang wayang Banjar, meskipun kualitasnya terbilang prematur bila harus tega dibandingkan dengan dalang Jawa atau Paguruannya dari Banjar. Namun anehnya, justru kelahiran prematur dalang  Buntok berikut kualitasnya yang diragukan, malah melahirkan wayang baru yang tak kalah unik, minimal setelah kisah wayang itu dituturkan kembali oleh nenek saya Jawiah binti Lelang kepada saya sebagai  cucunya.

            Ilustrasinya mungkin begini. Ketika wayang asli atau wayang India (berhasil dan atau gagal) diadopsi orang  Jawa, orang  Jawa menciptakan wayang baru yang sesuai dengan kejawaannya. Oleh karena itu, tidak heran kalau kemudian wayang asli mendapat anggota baru (putera daerah Jawa) seperti Wisanggeni, Ontoseno sampai Punakawan alias Kiyai Semar dan anak-anaknya. Meskipun skenario ceritera tetap kisah India sejati  tapi sudah ada sisipan  muatan lokal akibat bakincahnya para aktivis pendatang baru tadi.  Lalu tatkala wayang India telah benar-benar (diakui) menjadi Wayang Jawa Asli, kala itulah  wayang  “diambil” oleh Urang Banjar  sesuai kemampuannya. Hasilnya, keruwetan kisah India yang masih  “mampu” dipertahankan Wayang Jawa, mulai “gagal” dilidah Dalang Banjar. Siapa waruh siapa tambuk? Dari perkembangan selanjutnya, malah dalam beberapa kasus  wayang Banjar yang main di Buntok, bawayang justru kian menonjolkan sisipan Punakawannya saja daripada pakem asalnya. Terus, ketika wayang India yang telah di-Jawa-kan lalu di-Banjar-kan itu sampai juga ke Buntok, permintaan  pasar  atau selera rakyat Buntok yang sederhana justru “hanya” menantikan Punakawan saja dalam khasanah bawayang mereka. Sampai kemudian, karena keranjingan Punakawan berikut akibat  kegagalan nenek saya dalam mencerna lakon pewayangan, malah mematok kavling pewayangan baru dilingkungan keluarga kami. Itulah yang oleh nenek saya dinamakan Babagongan atau Wayang Epat. Artinya, bawayang bagi nenek saya hanyalah Lalakun Punakawan saja, dimana pemain utamanya adalah  si  endek  Bagong  Jambulita.

 

ARTIS WAYANG BUNTOK CUMA EMPAT, Plus…

            Kalau asalnya bawayang lakon utamanya adalah orang  India dan  kisah India, yang ketika di Jawa ‘bertemu’ Punakawan sebagai sisipan. Justru di Buntok lakon utamanya adalah Punakawan. Keterbatasan nenek saya dalam menyerap dan menceriterakan kembali kisah wayang kepada saya akhirnya malah mematok bahwa lakon utama wayang adalah Bagong plus ayahnya  Semar berikut kakaknya Petruk Onta dan Nala Gareng. Barulah kemudian artis Babagongan yang empat itu yang ketemu wayang-wayang lain dalam perjalanan hidup mereka yang penuh liku-liku. Artinya, telah terjadi pemutar-balikan rambu-rambu dan ideologi pewayangan di Kampung Buntok. Dan anehnya, revolusi itu justru terjadi di Buntok di lidah nenek saya Jawiah binti Lelang bin Karuang bin Rangkau yang buta huruf dan buta wayang.

            Mungkin timbul pertanyaan, kenapa Babagongan atau Wayang Epat yang menyimpang justru ditampilkan kedepan? Jawabannya singkat saja. Saya hanya ingin menampakkan bahwa Babagongan atau Wayang Epat merupakan wayang khas Kalimantan Tengah yang mudah-mudahan dapat menjadi pilar seni budaya nasional. Ini yang pertama. Kedua, lewat  Baba­gongan saya ingin menjadikannya jembatan informasi yang dapat dibaca oleh Pemerintah dalam arti luas dan masyarakat pada umumnya. Karena apa? Sebab cukup banyak dinamika dalam masyarakat Kalteng yang mungkin belum sempat dibaca oleh pemerintah. Atau sebaliknya, cukup banyak informasi dari pemerintah yang kurang sampai kepada  rakyatnya. Singkatnya, kiranya Babagongan ini dapat menjadi sarana silaturrahim non formal  dalam bermasyarakat dan berpemerintahan di Propinsi Kalimantan Tengah, sebab seluruh isi dan kulit dalam lalakun Babagongan yang ditampilkan diusahakan semaksimal mungkin menyerap dinamika masyarakat Kalimantan Tengah yang sedang  aktif bergerak maju.

            Selamat menikmati….

 

*)         Dua orang lokal yang berhasil menjadi Dalang Wayang Banjar itu adalah Kai Pa’ Baer (Kumis Saililah) dan  Julak  Pa’ Anen (Juri).