KITA APAKAN POTENSI KAMPUNG TERAPUNG BAMBALER

16 April 2014 | By admin in PARIWISATA | No Comments Yet

Dusun Bambaler adalah anak desa Baru, kecamatan Dusun Selatan, Kabupaten Barito Selatan. Kampung ini adalah kampung nelayan terapung yang berada di atas sungai Maliau, anak sungai Barito. Dengan demikian semua rumah penduduk mengambang diatas perairan.

 

Seluruh penduduk adalah nelayan tangkap yang mengusahakan ikan sungai dan danau yang mengelilingi kampungnya. Hasil tangkapan langsung dijual namun sebagian yang tidak memenuhi ukuran dipelihara di keramba apung yang berada disekitar rumah tinggal.

 

Mobilitas untuk lalu lintas penduduk adalah perahu jukung atau kelotok. Oleh karena itu setiap hari kita saksikan lalu lintas perahu seliweran di atas sungai Maliau, baik anak-anak yang pergi ke sekolah atau penduduk dewasa yang pergi untuk berbagai keperluan.

 

Bagus memang kawasan ini dijadikan obyek wisata alam karena hutan alam yang mengelilinginya masih orisinil dan satwa asli masih bebas berkeliaran disekilingnya. Namun apa bisa ya…, inilah pertanyaan. Sayang kalau tidak digarap karena jaraknya dengan Buntok hanya sekitar 40 menit naik kelotok.

 

 


SOS (Save Orchids Seriously)

15 April 2014 | By admin in ALAM | No Comments Yet

SOS

Save Orchids Seriously. Selamatkan anggrek kami secara serius. Bagai mana tidak? Setiap hari hutan menyusut. Kayu-kayu sebagai induk semang anggrek bertumbangan. Lereng-lereng lembah dan gunung kapur dikapling dan diekspoitasi demi tujuan ekonomi praktis. Katanya saja Gerakan Menanam Satu Miliar Pohon, toh penebangan sangat masif, terencana dan babat habis setiap harinya. Ramuk rakai himba kampung diubrak-ubrak-lunyak.

Agar anggrek asli masih bisa terlihat dan dinikmati sebaiknya Pemerintah menyiapkan pencadangan lahan sebagai tempat konservasi alami karena Barito Selatan belum memiliki kawasan konservasi alam baik flora maupun fauna. Kawasan seperti Bumi Perkemahan Pramuka “Lalemu Lewas” bisa dijadikan konservatori Anggrek Barsel karena kawasan itu memang habitat asli anggrek.

Adapun taman anggrek eks situ yang selama ini ada di Sanggu semakin perlu untuk lebih diperhatikan, bila perlu diperluas dan diseriusi penanganannya sehingga Sanggu yang selama ini identik dengan anggrek bisa lebih dikenali lagi.

Kami Barsel Promo melalui Nilam Orchid sudah membuka pusat penangkaran anggrek asli Barito Selatan di Jalan Keladan Nomor 47 Buntok dengan harapan dapat mendukung terus meningkatnya permintaan anggrek alam daerah ini dari luar daerah.

Kalau tidak ditangani dengan baik maka lambat laun anggrek asli akan hilang akibat hutannya hilang atau penjarahan aset alam yang tidak terkendali. Ingat…, hukum suplai dan deman berlaku dinamis di sini saat ini.

Kontak kami Maidi Al Harits nomor 0852 4951 3880.


HUNTING ANGGREK DI KAWASAN GUNUNG BINTANG AWAI (2)

14 April 2014 | By admin in PARIWISATA | No Comments Yet

HUNTING KEDUA
Hari sabtu, minggu dan senin tanggal 5-7 April 2014 diadakan lagi perjalanan berburu anggrek endemik di hutan alam Kabupaten Barito Selatan, Kalimantan Tengah. Perjalanan tetap dimulai dari Buntok ibukota kabupaten Barito Selatan menuju wilayah kecamatan Gunung Bintang Awai tepatnya Luir melalui jalan perusahaan PT Mitra Tambang Utama (MTU) dan lanjut sampai ke Dukuh Toang.
.
Perjalanan tetap off road dengan sepeda motor dan menempuh jarak sekitar 78 km dengan waktu tempuh sekitar satu setengah jam. Perjelajahan ke daerah ini lebih menantang  dari perjalanan sebelumnya karena jalan setapak yang dijalani sangat jarang dilalui serta lebih bertebing dan licin. Adapun wilayah jelajah perjalanan ini adalah Dukuh Toang, Sungai Uyah dan Senango.
.
ANGGREK BARITO SELATAN
Maidi Al Harits dan tim yang terdiri dari Fernando dan Miske warga lokal, serta didampingi juga oleh Bapak Kepala Dukuh Toang dan beberapa anggota lainnya, berhasil mengidentifikasi berbagai anggrek alam yang masih cukup banyak di alam liar seperti Coelogyne Asperata, Calanthe Vestista, Spatoelottis Aplicata dan Dendrobium Aff Crocathum dan anggrek tanah tinggi lainnya.
.
Dalam hunting kali ini juga ditemukan bunga bangkai yang sudah tidak mekar lagi. Disamping itu masih didapati juga tumbuhan dari jenis keladi raksasa, pisang hutan dan flora serta fauna asli Kalimantan yang lain.

Kawasan Gunung Bawo adalah wilayah tempat tinggal penduduk asli kabupaten Barito Selatan dari suku Bawo sehingga disamping memiliki hutan alam asli, fauna endemik, juga masih memiliki masyarakat asli yang perlu perhatian khusus dari Pemerintah.

Bagi yang ingin menggali informasi lebih lanjut dapat menghubungi kami Barsel Promo 0813 4960 6504 atau Maidi di nomor 0852 4951 3880.


Apa dibalik lagu “Geef mij maar nasi goreng”

11 April 2014 | By admin in KEBUDAYAAN | No Comments Yet

Judul diatas adalah judul lagu orang Belanda yang versi aslinya dibawakan oleh Wieteke Van Dort, orang Belanda yang lahir di Surabaya. Lagu ini bercerita tentang kerinduannya terhadap makanan-makanan Indonesia ketika dia sudah pulang dan berada di Belanda. 
.
Beginilah enaknya jadi penjajah. Ketika sudah pulang ke kampung halaman di Netherland maka segala yang dulunya dihina sebagai makanan kaum rendahan ternyata berubah menjadi kerinduan. Aduh mak, dia rindu nasi goreng, onde-onde, tahu petis, lumpia, sate babi, juga bakpao. Apakah dia lupa kalau banyak dari berbagai makanan Indonesia itu tercipta dari pedihnya dijajah? Bayangkan saja nasi goreng. Tidakkah nasih goreng tercipta karena Tuan Belanda tidak kasih ikan dan sayuran kepada pembantunya yang inlander sehingga dengan kecerdikannya maka si bibi atau mbok jongos harus menggoreng nasi sisa majikan dengan minyak jelantah bekas.
.
Nasi goreng memang enak, tapi apakah berasal dari sejarah yang enak juga? Kalau dia rindu Indonesia, apakah rindu karena sayang ataukah rindu karena ingin menjajah dan menghina lagi? Ingatlah juga dengan sejarah lahirnya tahu dan tempe. Tidakkah tahu dan tempe tercipta karena kaum tawanan Inlander tidak dikasih lauk oleh Saudara Tua dari Negeri Matahari. Terpaksa apa yang ada direndam sampai busuk lalu dimasak sampai akhirnya jadilah makanan yang terpaksa dimakan.
.
Ketika saya membuat resensi buku “Gigir Gampar Barito Raya, Amuk 1860-1905”, lagu nasi goreng itu terdengar oleh saya. Hati saya terasa lain, kenapa? Betapa sangat enaknya noni Belanda itu minta makan nasi goreng, sedangkan orang-orang kami disini, jangankan nasi goreng, makan “nasi basanga” pun tidak tentu bisa setahun sekali. Ketika bapak-bapak mereka yang opas mengejar kakek-nenek kami dari kampung ke kampung, habis harta benda kami dirampoknya. Enak saja dia makan nasi goreng dan ketan dan onde-onde sedangkan kami disini tidak punya apa-apa untuk dimakan. Apakah kekejaman semacam ini bisa terhapus hanya dengan lagu Nasi Goreng yang terkenal…? 
.
Wieteke Van Dort sang penyanyi, memang menjadi terkenal dengan lagu-lagunya “Geef mij maar nasi goreng” bahkan juga “Burung Kakaktua” dan “Nina Bobo”, namun apakah dia juga terkenal sebagai Noni yang rendah hati karena mau meminta maaf kepada para jongos dan para pembantu Tuan Kompeni yang menciptakan nasi goreng itu? 
Toen wij repatrieerden uit de gordel van smaragd
Dat Nederland zo koud was hadden wij toch nooit gedacht
Maar ‘t ergste was ‘t eten.
Nog erger dan op reis
Aardapp’len, vlees en groenten en suiker op de rijst
Geef mij maar nasi goreng met een gebakken ei
Wat sambal en wat kroepoek en een goed glas bier erbij
Geef mij maar nasi goreng met een gebakken ei
Wat sambal en wat kroepoek en een goed glas bier erbij
Geen lontong, sate babi, en niets smaakt hier pedis
Geen trassi, sroendeng, bandeng en geen tahoe petis
Kwee lapis, onde-onde, geen ketella of ba-pao
Geen ketan, geen goela-djawa, daarom ja, ik zeg nou
Ik ben nou wel gewend, ja aan die boerenkool met worst
Aan hutspot, pake klapperstuk, aan mellek voor de dorst
Aan stamppot met andijwie, aan spruitjes, erwtensoep
Maar ‘t lekkerst toch is rijst, ja en daarom steeds ik roep


HUNTING ANGGREK DI KAWASAN GUNUNG BINTANG AWAI (1)

10 April 2014 | By admin in PARIWISATA | No Comments Yet
BACK TO NATURE

Hari sabtu dan minggu tanggal 29-30 Maret 2014 diadakan perjalanan pertama berburu anggrek endemik di hutan alam Kabupaten Barito Selatan, Kalimantan Tengah. Perjalanan dimulai dari Buntok ibukota kabupaten Barito Selatan menuju wilayah kecamatan Gunung Bintang Awai tepatnya Luir melalui jalan perusahaan PT Mitra Tambang Utama (MTU).
.
Perjalanan off road dengan sepeda motor ini menempuh jarak sekitar 75 km dan memakan waktu perjalanan sekitar satu setengah jam. Waktu tempuh dan jarak memang tidak terlalu jauh namun perjalanan yang dilalui memang cukup menantang sehingga perlu nyali, kewaspadaan dan semangat. Betapa tidak, jalan yang diradat adalan jalan setapak yang jarang dilalui, kontur tanah yang bertebing dan perbukitan serta sangat licin apabila ditimpa oleh hujan walau pun sebentar.
USAHA ANGGREK SPESIES BARITO SELATAN
Barsel Promo yang dalam hal ini sekretarisnya Maidi Al Harits dan tim, mengidentifikasi berbagai anggrek alam yang masih cukup banyak di alam liar sehingga perlu perhatian pemerintah dan para pecinta anggrek lainnya sehingga keberadaannya dapat dipertahankan.
.
Pada sisi lain Nilam Orchid yang sedang memproses Izin Penangkaran dan Pemasaran Anggrek endemik daerah di Kantor PHKA Kalimantan Tengah di Palangka Raya  merasa perlu menghimbau Pemerintah Daerah, baik provinsi maupun kabupaten, agar kawasan asli yang masih ada di dua wilayah gunung yakni Gunung Bawo dan Gunung Bintang Awai di Kecamatan Gunung Bintang Awai, kabupaten Barito Selatan, dapat dicadangkan sebagai habitat alamiah anggrek alam tanah tinggi di Kalimantan Tengah. Dengan begitu daerah ini nantinya bisa menjadi lokasi wisata alam minat khusus.
.
Di kawasan Gunung Bawo ini terdapat villa milik mantan Gubernur Kalimantan Tengah dan Bupati Barito Selatan Drs. Asmawi Agani namun sayang fasilitas ini tidak terawat dan sama sekali tidak terpakai.
.
Bagi yang ingin menggali informasi lebih lanjut dapat menghubungi kami Barsel Promo 0813 4960 6504 atau Maidi di nomor 0852 4951 3880.