All Posts from Maret, 2013

CHRISTIAN SIMBAR PANGLIMA TERTINGGI GERAKAN MANDAU TALAWANG PANCA SILA (GMTPS) – 1

Maret 25th, 2013 | By admin in KEBUDAYAAN | No Comments »

Nama Pejuang Pergerakan Bersenjata pembentukan provinsi Kalimantan Tengah ini adalah Christian Simbar. Selain nama tersebut beliau juga dikenal masyarakat sebagai Mandolin. Disamping itu beliau juga bergelar Uria Mapas atau Uria Puneh. Ada juga nama yang lain yaitu Matuen Pehe atau Suyatim.

Mandolin alias Christian lahir di kampung Madara pada tanggal 5 Juni 1927. Beliau putra dari Bapak Simbar dengan ibu Munan Pukau. Christian memiliki 7 (tujuh) orang saudara kandung yaitu Ngaman Simbar (P), Bobo Simbar (L), Batin Simbar (L), Sarimea Simbar (P), Oueng Simbar (L), Karlimin Simbar (P) dan Radine Simbar (P).

.

Dalam kehidupannya Christian Simbar memiliki beberapa orang istri yaitu Lugi, Rosine Tate, Mura, Ratnawati Hartini, Nursiah dan Nursiam.

Perjalanan pendidikan formal Christian Simbar dilaluinya di Sekolah Rakyat (SR) tahun 1934 – 1940 di kampung Kalahien. Selama di Kalahien Christian kecil tinggal di rumah saudara kandung perempuan tertuanya yaitu Ngaman Simbar.

Selesai sekolah di Kalahien Christian melanjutkan MILO / SMP Negeri 1 di Kuala Kapuas tahun 1940 – 1943. Selama sekolah di Kuala Kapuas Christian tinggal di Asrama Pelajar Kuala Kapuas.

Tamat dari MILO Kuala Kapuas selanjutnya Christian melanjutkan pendidikan di SMA Kristen, Jalan Kalimantan Banjarmasin.  Selama sekolah di Banjarmasin Christian tinggal di Jalan Teluk Dalam nomor 324 Banjarmasin.

Disamping mengambil pendidikan formal, Christian juga ada mengambil jenjang pendidikan non formal yaitu Kursus Mengetik di Lembaga “Semangat” Banjarmasin tahun 1947.

Sejarah Provinsi Kalimantan Tengah

Maret 25th, 2013 | By admin in KEBUDAYAAN | No Comments »

Tulisan ini dikopy dari http://www.kebudayaan-dayak.org/index.php?title=Propinsi_Kalimantan_Tengah

 

Wilayah Barito, Kapuas dan Kotawaringin sangat kaya akan sumber daya alam (SDA). Namun sayang selama tergabung dengan Kalimantan Selatan, tak menikmati hasil kekayaan itu. Dalam kondisi memprihatinkan ini, muncul keinginan tokoh Dayak untuk memiliki provinsi sendiri yang terpisah dari Kalsel.

Keinginan terbentuknya provinsi sendiri ini menghasilkan Serikat Kaharingan Dayak Indonesia (SKDI) tanggal 20 Juli 1950 di Desa Tangkahen. Sahari Andung merupakan ketuanya. Dalam kongres SKDI di Desa Bahu Palawa tanggal 15 – 22 Juli 1953, muncul keinginan masyarakat Dayak agar diberikan daerah otonom lepas dari Kalsel. Kongres tersebut mengeluarkan mosi Nomor 1/Kong/1953 tanggal 22 Juli 1953 yang isinya mendesak pemerintah pusat membentuk Provinsi Kalteng sebelum Pemilu 1955 dengan wilayah meliputi Kabupaten Barito, Kapuas dan Kotawaringin. Namun, mosi itu tak ditanggapi oleh Mendagri masa itu.

 

Desember 1955 di Jakarta, Kongres Rakyat Seluruh Indonesia (KRSI) dilaksanakan. Ini merupakan kesempatan masyarakat Dayak menegakkan kembali tuntutannya. Tetapi, sekali lagi, tuntutan tersebut belum dapat dipenuhi pemerintah pusat. Kongres tersebut hanya menyetujui pemekaran Provinsi Kalimantan menjadi tiga, yaitu Kalbar, Kalsel dan Kaltim. Wilayah Kalteng (Barito, Kapuas dan Kotawaringin) berada di bawah Kalsel. Alasan pemerintah pusat saat itu, Kalteng belum mampu membiayai urusan rumah tangga daerah sebagai daerah otonom dan keadaan keuangan negara masih belum mengizinkan membentuk provinsi baru. Sumber daya manusia (SDM) di wilayah ini terutama tenaga terampil dan terdidik untuk tugas penyelenggaraan pemerintahan dan pembangunan juga dinyatakan masih kurang.

“Masyarakat Dayak Kalteng sangat menyesalkan pidato radio Mendagri yang menyatakan belum saatnya dibentuk Provinsi Kalteng karena penduduknya baru mencapai sekitar 500 ribu jiwa. Dikatakan pula suku Dayak belum menjadi suatu komunitas yang memiliki ketetapan hidup/masyarakat yang mapan dan belum ada kaum intelektualnya. Sebenarnya alasan itu sangat lemah dan dicari-cari,” demikian sekilas isi buku sejarah perjuangan pembentukan Provinsi Kalteng yang ditulis Drs F Sion Ibat dan Chornain Lambung SmHk ini.

 

Meskipun tuntutan tak dipenuhi, semangat untuk mencapai provinsi otonom tetap tertanam di hati masyarakat Dayak saat itu. Di satu sisi, tokoh Dayak menggelar konser rakyat Kalteng yang dipelopori Mahir Mahar. Di sisi lain, para pemuda di bawah pimpinan Christian Simbar alias Uria Mapas bergelar Mandulin tengah berjuang mengangkat senjata melalui Gerakan Mandau Talawang Pancasila (GMTPS). Anggota GMTPS bertekad berjuang sampai titik darah penghabisan. Karena itu, GMTPS disinyalir oleh pihak keamanan sebagai gerakan yang membuat keamanan tak stabil.

 

Momentum ini digunakan kongres mendesak pemerintah pusat agar segera membentuk Provinsi Kalteng. Kongres Rakyat Kalteng kemudian digelar di Gedung Chung Hua Tsung Hui, Jalan Pangeran Samudera Banjarmasin tanggal 2 – 5 Desember 1956. Sementara kongres berlangsung, pasukan GMTPS melakukan perjuangan bersenjata di daerah pedalaman. Sejak arena kongres, Sahari Andung sudah menduga akan ada penangkapan. Dugaan itu betul karena sekembalinya dari kongres, Sahari Andung, Willy Djimat dan Robert Bana ditangkap di tempat masing-masing oleh pihak keamanan dan dijebloskan ke penjara Teluk Dalam, Banjarmasin selama tiga bulan.

 

“Tanggal 19 Oktober 1953, markas induk GMTPS di Desa Bundar diserang aparat Kepolisian Buntok sehingga menimbulkan korban warga sipil, yaitu Tina (murid sekolah rakyat/SR) yang mati/meninggal di tempat. Getuk dan Nyurek (masyarakat) mengalami luka serius. Akibat serangan polisi, 86 anggota GMTPS dipimpin Christian Simbar melakukan serangan balik terhadap markas Kepolisian Buntok pada 22 November 1953. Pertempuran itu membawa banyak korban baik dari aparat keamanan, pegawai negeri, masyarakat sipil maupun GMTPS. Markas polisi dikepung dari dua jurusan sehingga tak ada jalan keluar dan banyak dari mereka yang jadi korban,” tulis kedua penulis pada halaman 22.

Pemilu 1955 menghentikan kegiatan fisik GMTPS karena tak ingin dikatakan sebagai pihak yang membuat kekacauan. Pasca pemilu, kontak senjata kembali terjadi. Antara lain di Pujon pada November 1955, kontak senjata di Desa Madara dengan TNI, Desa Butong, Desa Hayaping dan Desa Lahei. Dalam bentrok fisik tentara dan GMTPS di Hayaping pada 15 Desember 1955, Rusine Tate yang istri Christian Simbar menjadikan dirinya umpan untuk ditangkap Batalyon 605 sehingga pasukan GMTPS dapat menghindar dan menyelamatkan diri.

Kegiatan fisik GMTPS semakin meningkat pada 1956 karena belum ada tanda-tanda keseriusan pemerintah membentuk Provinsi Kalteng. Kontak senjata dengan aparat keamanan sering terjadi. Akhirnya, berdasarkan Surat Keputusan Mendagri tanggal SK Nomor U/34/41/24 tanggal 28 Desember 1956, kantor persiapan Provinsi Kalteng mulai dibentuk terhitung 1 Januari 1957. Pemerintah pusat melalui siaran radio juga meminta agar kontak senjata dihentikan. Panitia Penyelesaian Korban Kekacauan Daerah (PPKKD) Kalteng yang diketuai Mahir Mahar dibentuk. Tugasnya, melakukan pembicaraan dengan GMTPS. Tanggal 1 Maret 1957, terjadilah perundingan di Desa Madara, Buntok. Perundingan menghasilkan beberapa keputusan penting, antara lain pembentukan Provinsi Kalteng dengan wilayah meliputi Kabupaten Barito, Kapuas dan Kotawaringin dapat disetujui pemerintah.

 

Tidak ada tuntutan hukum atas semua korban, baik dari pihak GMTPS maupun pihak aparat keamanan dan penyaluran anggota GMTPS yang berminat menjadi tentara, polisi atau pegawai negeri. Kemudian, bantuan modal bagi anggota GMTPS yang ingin berusaha sesuai keahliannya dan penyerahan senjata GMTPS kepada pemerintah melalui upacara adat.  Akhirnya pada tanggal 23 Mei 1957 terbentuklah provinsi baru Kalimantan Tengah.  “Kalteng adalah satu-satunya provinsi yang dibentuk dengan UU Darurat. Pembentukannya merupakan titik temu antara tuntutan masyarakat Dayak baik melalui perundingan maupun pergerakan bersenjata GMTPS. Setiap tanggal 23 Mei diperingati sebagai hari jadi Provinsi Kalteng,” tulis Sion Ibat dan Chornain Lambung.

Setelah Provinsi Kalimantan Tengah terbentuk pada 23 Mei 1957, yang ditunjuk menjadi Gubernurnya adalah R.T.A. Milono, yang kebetulan juga adalah Gubernur Provinsi Kalimantan. Baru setahun lebih kemudian, yakni pada 30 Juni 1958, Tjilik Riwut diangkat Mendagri sebagai Gubernur Kalteng. Bila tgl. 23 Mei 1957 merupakan hari jadi Provinsi Kalimantan Tengah.

 

MAKAM CHISTIAN SIMBAR DIMUTASI KE MADARA

Maret 25th, 2013 | By admin in KEBUDAYAAN | No Comments »

 

PROLOG

Saya Syamsuddin Rudiannoor adalah anak tertua dari ibu Lamsyah binti Amir Hasan (Junung) bin Inggar bin Bahan. Ibu saya itu mantan Kepala SKKP Negeri Buntok dan Perintis SMP Negeri 2 Dusun Selatan. Sementara ayah saya Abdul Gani bin Mamat bin Katu adalah mantan Kepala SMP Negeri 1 Buntok (1957 – 1979).

 

Adalah fakta yang tidak bisa dipungkiri bahwa kakek kami Amir Hasan (Junung) bin Inggar bin Bahan adalah keluarga dekat Christian “Mandolin” Simbar. Dulu kakek kami merupakan bagian dari pergerakan pembentukan Provinsi Kalimantan Tengah. Peran beliau ini dapat dibaca dalam buku Tjilik Riwut “Kalimantan Membangun, Alam dan Kebudayaan”, penerbit Tiara Wacana, Yogyakarta.

 

Amir Hasan Kalahien bin Inggar bin Bahan juga pencetus pembentukan provinsi Barito Raya. Peran beliau telah dipublikasikan Banjarmasin Post beberapa tahun lalu atas penuturan Bapak Haji Ruslan dari Marawan (ayah Rayuhani, anggota DPRD Barito Selatan). Beliau juga mantan anggota DPRD Provinsi utusan Dayak Besar di Banjarmasin.

 

Lalu kenapa saya menghubungkan kedua kakek kami itu dalam tulisan ini? Pertama, karena ketika saya beberapa kali pulang pergi Buntok – Palangka Raya – Kuala Kapuas naik sepeda motor, secara otomatis hati ini terkenang masa lalu ketika melihat makam Simbar di wilayah Madara. Masa lalu pertama adalah kami dilarang berbicara tentang kekerabatan kepada orang luar karena kami dianggap keluarga gerombolan.  Kedua, jasa mereka dari perjuangan dimasa lalu tampaknya menemui jalan yang berbeda. Kakek saya sangat lama merantau di Jawa, pulang dan meninggal di Rumah Sakit Umum Buntok. Beliau dimakamkan di Kuburan Pasar Beringin Buntok. Selesai. Sementara Chistian Simbar juga sangat lama menghilang, lalu ditemukan makamnya di Nusa Tenggara Timur, kemudian dipindahkan ke Kalahien. Karena saya kemudian bermukim di Kuala Kapuas (2010 – 2012), barulah saya tahun kalau kuburan Simbar sudah dimutasi lagi ke wilayah Madara. Artinya, nasib manusia memang tidak bisa dipastikan takdirnya. Buktinya orang mati pun masih saja dimutasi kemana-mana sesuai keinginan yang berkuasa.

REVIEW
Gerakan Mandau Talawang Pancasila (GMTPS) dimasa lalu adalah pergerakan bersenjata yang bertujuan menuntut berdirinya Provinsi Kalimantan Tengah. Perjuangan ini berkeinginan agar rakyat Dayak Besar memiliki provinsi tersendiri terpisah dari Kalimantan Selatan. Pada awal kemerdekaan Pulau Kalimantan hanya memiliki tiga provinsi, yaitu Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur dan Kalimantan Barat. Sedangkan adanya pergerakan di Kalimantan Tengah tidak diakui Pemerintah Pusat dengan alasan  kekurangan uang negara untuk membiayai pembentukan empat provinsi sekaligus. Akan tetapi dalam tiga tahun setelah berlakunya undang-undang tersebut, Kalimantan Tengah akan dibentuk (Undang-Undang Darurat No.25 Tahun 1956). Sebagai persiapannya, Kalimantan Tengah memperoleh status Karisidenan dan Tjilik Riwut ditunjuk sebagai residen yang berkedudukan di Banjarmasin.

Keluarnya undang-undang tersebut ternyata disambut kekecewaan dari berbagai kalangan. Maka berdirilah gerakan bersenjata di Kalimantan Tengah, salah satunya GMTPS pimpinan Christian Simbar atau Uria Mapas. Gerakan ini bersifat militan, pernah melakukan serangan terhadap beberapa pos pemerintah diantaranya di Buntok dan Tamiang Layang.
.

Pada 19 Oktober 1953, markas GMTPS di desa Bundar diserang aparat Kepolisian Buntok. Serangan ini menimbulkkan korban warga sipil. Akibat serangan itu, Christian Simbar bersama 86 angota GMTPS  melakukan serangan balik terhadap markas Kepolisian Buntok pada 22 November 1953. Pertempuran itu memakan banyak korban dari pihak aparat keamanan, pegawai negeri maupun dari GMTPS sendiri.
.

Pada tahun 1955 ketika Indonesia memasuki masa Pemilu, GMTPS menghentikan sementara gerakan fisik karena tidak ingin dikatakan sebagai pembuat kekacauan. Namun pasca Pemilu kontak senjata kembali terjadi di Pujon, Desa Madara, Desa Butong, Desa Hayaping dan Desa Lahei. Pada bentrokan yang terjadi di Hayaping tanggal 15 Desember 1955 istri Christian Simbar yaitu Rusine Tate menjadikan dirinya umpan untuk ditangkap Batalyon 605 sehingga pasukan GMTPS berhasil lolos dari kepungan aparat.

Kegiatan GMTPS semakin meningkat pada tahun 1956 karena belum ada tanda-tanda keseriusan pemerintah dalam pembentukan provinsi Kalteng. Semakin seringnya terjadi kontak senjata dengan aparat keamanan maka akhirnya berdasarkan Keputusan Mendagri SK Nomor U /34/41/24 tanggal 28 Desember 1956 dibentuklah Kantor Persiapan Provinsi Kalteng terhitung 1 Januari 1957. Pemerintah pusat juga meminta agar kontak senjata dihentikan. Maka dibentuk Panitia Penyelesaian Korban Kekacauan Daerah (PPKD) Kalteng yang diketuai oleh Mahir Mahar. Tugasnya melakukan perundingan dengan pihak GMTPS. Tanggal 1 Maret 1957 terjadi perundingan di Desa Madara, Buntok yang menghasilkan beberapa keputusan antara lain :

1. Pembentukan Provinsi Kalimantan tengah dengan wilayah meliputi Kab. Barito, Kapuas dan  Kotawaringin dapat disetujui.

2. Tidak ada tuntutan/proses hukum atas semua korban baik dari pihak GMTPS maupun pihak aparat keamanan
3. Penyaluran anggota GMTPS yang berminat untuk menjadi tentara , polisi ataupun pegawai negeri
4. Bantuan modal bagi angota GMTPS yang ingin berusaha sesuai keahlian masing-masing
5. Penyerahan senjata GMTPS kepada pemerintah melalui upacara adat.

Dalam perkembangannya maka terbentuklah Provinsi Kalimantan Tengah pada tanggal 23 Mei 1957 dengan Tjilik Riwut sebagai Gubernurnya. Lalu bagai mana dengan kabar Barito Raya setelah 55 tahun Kalimantan Tengah dilahirkan dengan perjuang berdarah? Masih adakah gairah untuk Barito Raya? Tidak tahu kita kabarnya, ada atau tiada, walau pun Kalimantan Timur sudah membagi diri menjadi Kalimantan Timur dan Kalimantan Utara. Bahkan Papua sudah pula membelah diri menjadi Papua, Papua Barat, Papua Timur, Papua Selatan dan sebagainya. Yang pasti Barito Raya memang sunyi sesunyi kuburan Simbar di tanah Madara yang hampa.

 

Cerita Rakyat Bakumpai

Maret 20th, 2013 | By admin in KEBUDAYAAN | No Comments »

Ui kawan hampahai samandeah. Tuh yaku umba mahalau. Kahalau jitu jida babarangah halau. Halau jituh sambil kia baparuman akan uluh are bahwasanya ada ije buku ji asal eh bi kula arep si Tumbang kanih. Gitang kuh buku jituh patut kia ingatawan itah. Tuh iye buku eh.

.

Kesah Bantus tuh kesah asal bi jaman batuh baneh, kesah uluh batuh ji paling hambalar, araie Bantus. Bantus hapanbelun dengan Umae ji jadi bakas kiya. Uluh ji kalebu hatawan ji aran Bantus te punae hambalar, gawiaie jida beken menter-menter balawu kuman batiruh.

.

Buhen pada ije andau parahatan Bantus menter sambil mamahera iye tangkejet hiau ada ji mangahau araie. Bantus munduk mangilau suara te dumah bi kueh. Tuh situh Bantus yaku mangahau ikau.

.

Bantus maningau kan lalungkang ji jida kejau pada ukan Bantus menter, si baun lalungkang te puna ada ji batang jambu, bidan bijambu te ada ji kungan burung darakuku. Bantus, sipet yaku Bantus auh burung jite. Limbah Bantus hatawan burung jite ji mangahau iye tenah Bantus hampuli menter hindai, kuler tumbah Bantus. Sipet yaku Bantus auh burung te hindai. Hamperepere burung te mangahau, kamuyakan maka kiya Bantus. Lalu inyipete burung jite tanggar lalu burung te manjatu kan petak. Bantus handak hampuli menter tapi burung te mangahau iye.

.

Impung yaku Bantus, auhe. Hamparere hindai burung te mangahau ahire maku kiya Bantus muhun kan petak mainpung burung darakuku ji buah sipet te. Lalu iandake si rahan luar handak ilihie, Bantus handak tane kan huang manangkuli menter. Tapi burung te mangahau dengan Bantus. Irek yaku Bantus, lalu belum apui inapui yaku Bantus, auhe.

.

Peda ingahau tarus ahire maku kiya Bantus. Ringkas kesah mansak pupuian maura-ura mawi kacar iweh Bantus.

.

Jida kawa maarit hindai Bantus lalu mangenta burung te. Sanjulu beh lepah ikinan Bantus. Puna jida inyangka burung ji halus tenah mampabensuh tanain Bantus, handak jida kawa hagerek kabensuhan. Jida kakueh Bantus marasa kapehe tanaie handak mamani. Iye tapaksa manggau ukan batanggar si likur dapur.

.

Alkisah jandau-jandau jida kamean sampai tukep ji bulen. Buhen waktu umae muhun kan rahan luar silikur te iye maalang dawen baluh dengan batange malancar subur banar. Umaie bainsek dengan Bantus. Bantus manumbah jida hatawan lalu. Padahal tumbu be asal eka tambuan tain Bantus. Baluh te malantar manjelar daweie hai banar.

.

Jida kakueh baluh te mangambang, kambang jadi putuk, putuk jadi bua. Sanjulu bua baluh te hai, sampai tandak sipetak puna limpat hai. Limbah jadi batue lalu inutik si Uma. Babehat banar uluh badue manggatang kan huang huma.

.

Bantus inyuhu badinu lading si Uma handak manyila baluh babaya tandak lading tau-tau baluh te basila kabuate, tangkejet jida sakira Bantus dengan Umae. Sebape si huang baluh te ada anak uluh pina baputi bahenda bahalap banar.

.

Bantus takang kilau hampagu, tapi si Uma barake iye maangkat anak kuluh te ji tanyata anak uluh bawi kilan jadi baumur telu nyelu. Limbah iangkat lalu anak uluh te manangis kilau tangis anak uluh halus kiya, impundunge kasukaan yaku supa anak auhe kahuaan. Lalu inpanduie limbah jadi barasih lalu inyapute. Sampai ji bulan anak uluh te mulai tau hapander dan mulai tau mananjung.

.

Nyelu kalawan nyelu bawi ji supa bi huang baluh te baubah jadi bawi bujang ji bahalap banar kilau bidadari. Bantus lembut mahamen panguler iye baubah jadi hatue ji rajin iye manduhup banar dengan Umae. Iye bagawi kantana muhun magilau laukkan sungei dan bakabun. Sahingga Uma Bantus jida kakurangan hindai, awen mulai belum mangat. Jida kakueh Bantus ingawinan dengan putri bi asal huang baluh te. Uluh lebu pada heran bawi dumah bi kueh sawan Bantus.

.

Ditulis Kembali Oleh Pambakal Banua Hujung Tanah (Adum M. Sahriadi)
Diambil dari Buku: BAHASA BAKUMPAI; STRUKTUR DAN IDENTITAS
Penulis : M. Hatta Baduani
Editor : Retno Inten ZA Maulani dan Setia Budhi
Cetakan : Pertama Januari 2005
Penerbit: CRDS Kalimantan

 

Suku Dayak Maanyan

Maret 20th, 2013 | By admin in KEBUDAYAAN | No Comments »

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas diperoleh data tentang suku Dayak Maanyan sebagai berikut:

.
Suku Dayak Maanyan
Jumlah populasi
kurang lebih 71.000 jiwa
Kawasan dengan jumlah penduduk yang signifikan
Kelompok etnis terdekat
 

Suku Dayak Maanyan merupakan salah satu dari bagian sub suku Dayak dan juga merupakan salah satu dari suku-suku Dusun (Kelompok Barito bagian Timur) sehingga disebut juga Dusun Maanyan. Suku-suku Dusun termasuk golongan rumpun Ot Danum, salah satu rumpun suku Dayak sehingga disebut juga Dayak Maanyan.

.

Suku Maanyan mendiami bagian timur Kalimantan Tengah terutama di kabupaten Barito Timur dan sebagian kabupaten Barito Selatan yang disebut Maanyan I. Suku Maanyan juga mendiami bagian utara Kalimantan Selatan tepatnya di Kabupaten Tabalong yang disebut Dayak Warukin. Dayak Balangan (Dusun Balangan) yang terdapat di Kabupaten Balangan dan Dayak Samihim yang terdapat di Kabupaten Kotabaru juga digolongkan ke dalam suku Maanyan. Suku Maanyan di Kalimantan Selatan dikelompokkan sebagai Maanyan II.

.

Suku Maanyan merupakan suku baru yang muncul dalam sensus tahun 2000 dan merupakan 2,80% dari penduduk Kalimantan Tengah, sebelumnya suku Maanyan tergabung ke dalam suku Dayak pada sensus 1930.[1]

.

Menurut orang Maanyan, sebelum menempati kawasan tempat tinggalnya yang sekarang, mereka berasal dari hilir (Kalimantan Selatan). Walaupun sekarang wilayah Barito Timur tidak termasuk dalam wilayah Kalimantan Selatan, tetapi wilayah ini dahulu termasuk dalam wilayah terakhir Kesultanan Banjar sebelum digabung ke dalam Hindia Belanda tahun 1860 yaitu wilayah Kesultanan Banjar yang telah menyusut dan tidak memiliki akses ke laut, sebab dikelilingi daerah-daerah Hindia Belanda.

.

Menurut situs “Joshua Project” suku Maanyan berjumlah 71.000 jiwa. Menurut sastra lisan suku Maanyan, setelah mendapat serangan Marajampahit (Majapahit) kepada Kerajaan Nan Sarunai, suku ini terpencar-pencar menjadi beberapa sub-etnis. Suku ini terbagi menjadi 7 subetnis, di antaranya:

  • Maanyan Patai
  • Maanyan Paku
  • Maanyan Paju Epat (murni)
  • Maanyan Dayu
  • Maanyan Paju Sapuluh (ada pengaruh Banjar)
  • Maanyan Jangkung (ada pengaruh Banjar)
  • Maanyan Benua Lima/Paju Lima (ada pengaruh Banjar)
  • Maanyan Warukin (ada pengaruh Banjar)
  • dan lain-lain

.

Keunikan Suku Dusun Maanyan, antara lain mereka mempraktikkan ritus pertanian, upacara kematian yang rumit, serta memanggil dukun (balian) untuk mengobati penyakit mereka.[2]