All Posts from November, 2013

Pasar Rakyat Buntok

November 22nd, 2013 | By admin in UMUM | No Comments »
Pasar malam masa kini tidak lagi harus berhubungan dengan momen ulang tahun tertentu atau peristiwa yang dirayakan dengan even merakyat namun sudah menjadi ajang bisnis yang menjanjikan.  Oleh karenanya pasar rakyat sudah merupakan grup bisnis yang dilakoni oleh manajemen tertentu secara terjadual. 

Kota kecil seperti Buntok paling tidak dua kali setahun didatangi “pasar malam keliling”. Dengan demikian semakain banyak juga kesempatan masyarakat untuk mendapatkan variasi tempat berbelanja dan rekreasi keluarga. 

Saat ini (22/11/2013) dan beberapa malam ke depan Taman Iring Witu Buntok diramaikan dengan pasar malam rakyat ini. Pameran dagang ini menyajikan berbagai jenis usaha seperti kuliner, pakaian, peralatan rumah tangga, elekronika dan permainan anak-anak. 

Semoga saja keberjalanan pasar malam ini berlangsung tanpa rintangan  atau gangguan keamanan sehingga suasana kondusif terus tercipta.

 

BUNTOK TIDAK MENGHARGAI SEJARAH-nya(?)

November 19th, 2013 | By admin in KEBUDAYAAN | 1 Comment »

 

Saya Syamsuddin Rudiannoor sangat menghargai masa lalu yang bernama sejarah. Bagi saya sejarah adalah ibrah, jejak kehidupan dan cermin usang untuk menatap masa depan. Sebuah semboyan menyebutkan: “Sejarah adalah politik masa lalu dan Politik adalah Sejarah untuk masa depan”. Oleh karenanya saya sangat sedih tatkala tahu bahwa Buntok telah banyak kehilangan bukti dari sejarah itu.

 

Dulu di masa kecil saya antara 1967-1979, Buntok masih punya Pendopo, Gudang Garam, Lapangan Kedaulatan dan Tiang Bendera kayu ulin yang legendaris. Ternyata kini semua itu sudah tidak ada lagi. Yang masih ada tersisa hanyalah kapal dinas Bupati Urbanus Martjun, SH berupa BARSEL I di Iring Witu. 

 

Dibandingkan dengan Palangka Raya yang baru ada pada 17 Juli 1957, Buntok adalah kota tua bersejarah yang mestinya lebih banyak meninggalkan tapak-tapak masa lalu. Namun nyatanya Buntok kurang menyisakan masa lalunya yang otentik sementara Palangka Raya telah menetapkan “Tugu Soekarno”, “Pesanggrahan”, “Pelabuhan Rambang” sebagai “Benda Cagar Budaya”, padahal semua warisan itu barulah ada pasca 1957. 

 

Kenapa Buntok tidak punya apa-apa atas masa lalunya padahal sudah eksis sejak sebelum kerajaan Kerajaan Banjar sementara Palangka Raya yang baru ada di zaman Kemerdekaan RI, masih mampu menyisakan SEJARAH-nya?  Entahlah……

 

Untuk sekedar menghibur hati maka saya bekerjasama dengan Penerbit WR Yogyakarta menerbitkan dua buku Sejarah yakni “NAN SARUNAI USAK JAWA” (Negara Dayak Dihancurkan Bangsa Jawa) (1280-1700) dan GIGIR GAMPAR BARITO RAYA (Amuk 1860-1905). Harapan saya…, semoga Buntok masih mampu menampilkan sisa-sisa masa lalunya agar tidak kehilangan sama sekali puting parukung sejarahnya.

 

Ayun Anak “BAPUKUNG”

November 15th, 2013 | By admin in KEBUDAYAAN | No Comments »

 
Satu tradisi masyarakat Kalimantan yang tampaknya masih melekat sampai sekarang pada orang Banjar dan Dayak pada umumnya adalah menidurkan bayi dalam ayunan.
 
Dalam tradisi ayun anak ini ada kekhasan yang kemungkinan tidak terdapat di daerah lain selain di Kalimantan yaitu “AYUN PUKUNG”.
 
Ayun dipukung atau anak kecil diayun dengan posisi duduk dan seluruh badanya diikat sampai batas leher adalah kebiasaan lama nan tetap lestari. Dengan dipukung maka anak yang ditidurkan di ayunan itu seolah-olah dicekik dengan ayunannya.
 
Dengan tidur dipukung pada umumnya anak bisa tidur sangat nyenyak dan orang tua tidak khawatir meninggalkannya sang anak yang tertidur pulas sendirian.

Adat Pernikahan Burung Juei

November 15th, 2013 | By admin in KEBUDAYAAN | No Comments »
DSC00250

Pada Ahad pagi tanggal 10 November 2013 dilaksanakan walimah pernikahan Jesisca Sri Wardhani dan Aryadi Gunawan di Jalan Karau Gang Sewarga Buntok. Aqad nikahnya telah dilaksanakan secara Islam semalam di tempat yang sama oleh Kepala Kantor Urusan Agama Kecamatan Dusun Selatan.

DSC00466

Dalam walimah pagi itu dilaksanakan kegiatan mempertemukan kedua mempelai dengan prosesi adat Dusun-Ma’anyan yaitu “Burung Juei”.

 

DSC00311

Burung Juei pada perhelatan ini dilaksanakan oleh Sanggar Tari “Iring Witu” Buntok pimpinan Saiten R Natu.

  DSC00370

Menariknya dalam prosesi perkawinan adat ini adalah tampilnya para penari “Ruang Wunrung” atau wadian Bawo (laki-laki) dan wadian Dadas (perempuan) secara bersamaan, ditambah atraktifnya penampilan wadian anak-anak.

 

DSC00471Semoga biduk rumah tangga yang dibangun Jesisca dengan suaminya yang berasal dari Sukamara berjalan bahagian dan sejahtera selama-lamanya, amin.

DSC00540