All Posts in the ‘KEBUDAYAAN’ Category

PUNAKAWAN DALAM SATIRE DAYAK BESAR (Wayang Buntok)

July 8th, 2014 | By admin in KEBUDAYAAN | No Comments »
 

RESENSI BUKU

Penulis : Syamsuddin Rudiannoor

Katagori : Kumpulan cerita pendek versi wayang lokal Kalimantan Tengah

Penerbit : Barito Raya Pro Buntok bekerjasama dengan Penerbit WR  Yogyakarta

Jumlah halaman :  366 halaman

Harga jual: Rp. 120.000,-

Kualitas cetak: Offset diatas book paper

Tahun Penerbitan: Cetakan I  September 2013

Lokasi Pemasaran: Barsel Promo, Jalan Panglima Batur Nomor 7 Buntok

Kontak telepon/sms:      0813 4960 6504

WAYANG BUNTOK…, hah APAAN TUH..?

Antara tahun 1968 sampai 1975, Buntok masih kota sangat kecil yang sederhana. Kala itu sarana informasi rakyat yang paling moderen baru berupa pesawat radio dan sedikit tape recorder. Tidak ada pesawat televisi. Listrik masih belum PLN.  Mobil masih tidak ada. Sepeda motor termasuk vesva masih berbilang jari. Siaran RRI merupakan siaran idola seluruh rakyat. Dus, dalam suasana seperti itu, tumbuhlah saya sebagai seorang anak bawang berusia 5 sampai 12 tahun.

            Dalam kebersahajaan hidup Buntok tahun-tahun tersebut, terkenanglah saya akan  jasa almarhumah nenek saya Jawiah binti Lelang bin Karuang bin Rangkau. Kenapa demikian? Karena dari mulut tua beliau, saya mendengar secara berulang-ulang banyak kisah atau ceritera rakyat yang cukup variatif pokok bahasannya. Pendeknya, ada ceritera kancil dan pak tani. Ada kisah kura-kura dan burung pelatuk. Ada Sangumang dan keluarganya. Ada kisah Batara Gangga. Ada ceritera Supak dan Gantang. Dan yang terakhir saya ingat adalah kisah lucu yang beliau namakan Babagongan  atau  Wayang Epat.

            Kembali ke suasana Buntok tahun 1968-1975, hiburan rakyat yang hidup kala itu adalah musik-musik RRI plus sedikit seni  tradisional. Dan salah satu seni tradisi itu adalah  pagelaran pentas wayang kulit. Terus, wayang kulit yang dimaksud adalah Wayang Banjar (atau  wayang Jawa yang dimainkan oleh orang Banjar (?)). Pendek kata, seni yang dominan dimainkan di pahuluan Barito kala itu adalah seni pesisir yang dibawa orang Banjar. Sampai kemudian, tercatat ada dua*) orang lokal yang berhasil menyalin kaji dan menjadi dadalang wayang Banjar, meskipun kualitasnya terbilang prematur bila harus tega dibandingkan dengan dalang Jawa atau Paguruannya dari Banjar. Namun anehnya, justru kelahiran prematur dalang  Buntok berikut kualitasnya yang diragukan, malah melahirkan wayang baru yang tak kalah unik, minimal setelah kisah wayang itu dituturkan kembali oleh nenek saya Jawiah binti Lelang kepada saya sebagai  cucunya.

            Ilustrasinya mungkin begini. Ketika wayang asli atau wayang India (berhasil dan atau gagal) diadopsi orang  Jawa, orang  Jawa menciptakan wayang baru yang sesuai dengan kejawaannya. Oleh karena itu, tidak heran kalau kemudian wayang asli mendapat anggota baru (putera daerah Jawa) seperti Wisanggeni, Ontoseno sampai Punakawan alias Kiyai Semar dan anak-anaknya. Meskipun skenario ceritera tetap kisah India sejati  tapi sudah ada sisipan  muatan lokal akibat bakincahnya para aktivis pendatang baru tadi.  Lalu tatkala wayang India telah benar-benar (diakui) menjadi Wayang Jawa Asli, kala itulah  wayang  “diambil” oleh Urang Banjar  sesuai kemampuannya. Hasilnya, keruwetan kisah India yang masih  “mampu” dipertahankan Wayang Jawa, mulai “gagal” dilidah Dalang Banjar. Siapa waruh siapa tambuk? Dari perkembangan selanjutnya, malah dalam beberapa kasus  wayang Banjar yang main di Buntok, bawayang justru kian menonjolkan sisipan Punakawannya saja daripada pakem asalnya. Terus, ketika wayang India yang telah di-Jawa-kan lalu di-Banjar-kan itu sampai juga ke Buntok, permintaan  pasar  atau selera rakyat Buntok yang sederhana justru “hanya” menantikan Punakawan saja dalam khasanah bawayang mereka. Sampai kemudian, karena keranjingan Punakawan berikut akibat  kegagalan nenek saya dalam mencerna lakon pewayangan, malah mematok kavling pewayangan baru dilingkungan keluarga kami. Itulah yang oleh nenek saya dinamakan Babagongan atau Wayang Epat. Artinya, bawayang bagi nenek saya hanyalah Lalakun Punakawan saja, dimana pemain utamanya adalah  si  endek  Bagong  Jambulita.

 

ARTIS WAYANG BUNTOK CUMA EMPAT, Plus…

            Kalau asalnya bawayang lakon utamanya adalah orang  India dan  kisah India, yang ketika di Jawa ‘bertemu’ Punakawan sebagai sisipan. Justru di Buntok lakon utamanya adalah Punakawan. Keterbatasan nenek saya dalam menyerap dan menceriterakan kembali kisah wayang kepada saya akhirnya malah mematok bahwa lakon utama wayang adalah Bagong plus ayahnya  Semar berikut kakaknya Petruk Onta dan Nala Gareng. Barulah kemudian artis Babagongan yang empat itu yang ketemu wayang-wayang lain dalam perjalanan hidup mereka yang penuh liku-liku. Artinya, telah terjadi pemutar-balikan rambu-rambu dan ideologi pewayangan di Kampung Buntok. Dan anehnya, revolusi itu justru terjadi di Buntok di lidah nenek saya Jawiah binti Lelang bin Karuang bin Rangkau yang buta huruf dan buta wayang.

            Mungkin timbul pertanyaan, kenapa Babagongan atau Wayang Epat yang menyimpang justru ditampilkan kedepan? Jawabannya singkat saja. Saya hanya ingin menampakkan bahwa Babagongan atau Wayang Epat merupakan wayang khas Kalimantan Tengah yang mudah-mudahan dapat menjadi pilar seni budaya nasional. Ini yang pertama. Kedua, lewat  Baba­gongan saya ingin menjadikannya jembatan informasi yang dapat dibaca oleh Pemerintah dalam arti luas dan masyarakat pada umumnya. Karena apa? Sebab cukup banyak dinamika dalam masyarakat Kalteng yang mungkin belum sempat dibaca oleh pemerintah. Atau sebaliknya, cukup banyak informasi dari pemerintah yang kurang sampai kepada  rakyatnya. Singkatnya, kiranya Babagongan ini dapat menjadi sarana silaturrahim non formal  dalam bermasyarakat dan berpemerintahan di Propinsi Kalimantan Tengah, sebab seluruh isi dan kulit dalam lalakun Babagongan yang ditampilkan diusahakan semaksimal mungkin menyerap dinamika masyarakat Kalimantan Tengah yang sedang  aktif bergerak maju.

            Selamat menikmati….

 

*)         Dua orang lokal yang berhasil menjadi Dalang Wayang Banjar itu adalah Kai Pa’ Baer (Kumis Saililah) dan  Julak  Pa’ Anen (Juri).

Apa dibalik lagu “Geef mij maar nasi goreng”

April 11th, 2014 | By admin in KEBUDAYAAN | No Comments »

Judul diatas adalah judul lagu orang Belanda yang versi aslinya dibawakan oleh Wieteke Van Dort, orang Belanda yang lahir di Surabaya. Lagu ini bercerita tentang kerinduannya terhadap makanan-makanan Indonesia ketika dia sudah pulang dan berada di Belanda. 
.
Beginilah enaknya jadi penjajah. Ketika sudah pulang ke kampung halaman di Netherland maka segala yang dulunya dihina sebagai makanan kaum rendahan ternyata berubah menjadi kerinduan. Aduh mak, dia rindu nasi goreng, onde-onde, tahu petis, lumpia, sate babi, juga bakpao. Apakah dia lupa kalau banyak dari berbagai makanan Indonesia itu tercipta dari pedihnya dijajah? Bayangkan saja nasi goreng. Tidakkah nasih goreng tercipta karena Tuan Belanda tidak kasih ikan dan sayuran kepada pembantunya yang inlander sehingga dengan kecerdikannya maka si bibi atau mbok jongos harus menggoreng nasi sisa majikan dengan minyak jelantah bekas.
.
Nasi goreng memang enak, tapi apakah berasal dari sejarah yang enak juga? Kalau dia rindu Indonesia, apakah rindu karena sayang ataukah rindu karena ingin menjajah dan menghina lagi? Ingatlah juga dengan sejarah lahirnya tahu dan tempe. Tidakkah tahu dan tempe tercipta karena kaum tawanan Inlander tidak dikasih lauk oleh Saudara Tua dari Negeri Matahari. Terpaksa apa yang ada direndam sampai busuk lalu dimasak sampai akhirnya jadilah makanan yang terpaksa dimakan.
.
Ketika saya membuat resensi buku “Gigir Gampar Barito Raya, Amuk 1860-1905”, lagu nasi goreng itu terdengar oleh saya. Hati saya terasa lain, kenapa? Betapa sangat enaknya noni Belanda itu minta makan nasi goreng, sedangkan orang-orang kami disini, jangankan nasi goreng, makan “nasi basanga” pun tidak tentu bisa setahun sekali. Ketika bapak-bapak mereka yang opas mengejar kakek-nenek kami dari kampung ke kampung, habis harta benda kami dirampoknya. Enak saja dia makan nasi goreng dan ketan dan onde-onde sedangkan kami disini tidak punya apa-apa untuk dimakan. Apakah kekejaman semacam ini bisa terhapus hanya dengan lagu Nasi Goreng yang terkenal…? 
.
Wieteke Van Dort sang penyanyi, memang menjadi terkenal dengan lagu-lagunya “Geef mij maar nasi goreng” bahkan juga “Burung Kakaktua” dan “Nina Bobo”, namun apakah dia juga terkenal sebagai Noni yang rendah hati karena mau meminta maaf kepada para jongos dan para pembantu Tuan Kompeni yang menciptakan nasi goreng itu? 
Toen wij repatrieerden uit de gordel van smaragd
Dat Nederland zo koud was hadden wij toch nooit gedacht
Maar ‘t ergste was ‘t eten.
Nog erger dan op reis
Aardapp’len, vlees en groenten en suiker op de rijst
Geef mij maar nasi goreng met een gebakken ei
Wat sambal en wat kroepoek en een goed glas bier erbij
Geef mij maar nasi goreng met een gebakken ei
Wat sambal en wat kroepoek en een goed glas bier erbij
Geen lontong, sate babi, en niets smaakt hier pedis
Geen trassi, sroendeng, bandeng en geen tahoe petis
Kwee lapis, onde-onde, geen ketella of ba-pao
Geen ketan, geen goela-djawa, daarom ja, ik zeg nou
Ik ben nou wel gewend, ja aan die boerenkool met worst
Aan hutspot, pake klapperstuk, aan mellek voor de dorst
Aan stamppot met andijwie, aan spruitjes, erwtensoep
Maar ‘t lekkerst toch is rijst, ja en daarom steeds ik roep

RESENSI BUKU LIANG SARAGI, Semuanya karena Cinta….

April 7th, 2014 | By admin in KEBUDAYAAN | No Comments »

Judul buku : LIANG SARAGI, Semuanya karena Cinta….

Penulis : Syamsuddin Rudiannoor

Katagori : Legenda Daerah Kalimantan Tengah (Barito Timur)

Penerbit : Barito Raya Pro Buntok bekerjasama dengan Penerbit WR  Yogyakarta

Jumlah halaman :  252 halaman

Harga jual: Rp. 70.000,-

Kualitas cetak: Offset diatas kertas HVS 70 gram

Tahun Penerbitan: Cetakan I Juli 2013

Lokasi Pemasaran: Barsel Promo, Jalan Panglima Batur Nomor 7 Buntok

Kontak telepon/sms:      0813 4960 6504

Buku legenda “LIANG SARAGI, Semuanya karena Cinta”, merupakan kisah cinta tragis dan legendaris yang berasal dari Kabupaten Barito Timur Provinsi Kalimantan Tengah. Buku ditulis oleh Syamsuddin Rudiannoor pada tahun 1996.

Lokasi kejadian yang digambarkan “Liang Saragi” adalah perkampungan Tudan Tarung yang apabila dilihat dengan kacamata saat ini berada dalam wilayah administrasi Kecamatan Awang kabupaten Barito Timur.

Kisah bermula ketika Raja Tudan Tarung yang bernama Dambung Datu Tatan sakit keras dan meninggal dunia. Dengan peristiwa ini otomatis tahta kepemimpinan diwarisi oleh anaknya yang bejat moralnya bernama Dambung Gamiluk Langit.

Singkat kata, Raja Dambung Gamiluk Langit akhirnya mengawinkan putrinya bernama Putri Lingga Wulan Layu dengan Maju Ranang Mea padahal Maju Ranang Mea adalah juga anak kandungnya yang merupakan hasil selingkuhnya dengan Dara Layang Winei. 

Proses perkawinan sedarah ini dilakukan oleh Raja Dambung Gamiluk Langit dengan mengorbankan Saragi Nanta kekasih hati putrinya tercinta. Perkawinan paksa dilakukan dengan cara yang sangat licik. Saragi Nanta adalah putra tunggal Wadian Wawei Dara Mauruwe yang selama ini merupakan dukun kerajaan yang sangat terpercaya.

 

Pesta pernikahan kerajaan yang digelar raja Dambung Gamiluk Langit ternyata berbuah petaka. Perkawinan sedarah ini justru mengundang rume atau kiamat lokal yang mengakibatkan kemusnahan Tudan Tarung secara total. Guntur petir menyambar balai pernikahan yang meriah. Hujan deras membasahi seluruh kampung dan penghuninya. Akhirnya kampung beradab itu terkutuk menjadi batu. Bekas-bekas perkampungan inilah yang kemudian dikenal sebagai LIANG SARAGI.

RESENSI BUKU GIGIR GAMPAR BARITO RAYA (Amuk 1860 – 1905)

April 7th, 2014 | By admin in KEBUDAYAAN | No Comments »

Judul buku : GIGIR GAMPAR BARITO RAYA  (Amuk 1860 – 1905)

Penulis : Syamsuddin Rudiannoor

Katagori : Sejarah Daerah Kalimantan Selatan dan Tengah 

Penerbit : Barito Raya Pro Buntok bekerjasama dengan Penerbit WR Yogyakarta

Jumlah halaman:  171 halaman

Kualitas cetak: Kertas bookpaper 

Tahun Penerbitan: Cetakan I Oktober 2013

Harga jual: Rp. 60.000,-

Lokasi Pemasaran: Barsel Promo, Jalan Panglima Batur Nomor 7 Buntok

Kontak telepon/sms:   0813 4960 6504

RESENSI BUKU

Buku sederhana ini merupakan sejarah lokal kedua yang ditulis oleh Syamsuddin Rudiannoor setelah Nan Sarunai Usak Jawa. Proses pengumpulan bahan dilakukan sejak tahun 2003.

Patut diakui buku GIGIR GAMPAR BARITO RAYA (Amuk 1860 – 1905) ini, Bab Pertama dan Kedua kebanyakan merupakan kutipan buku pertama “NAN SARUNAI USAK JAWA”. Bagian ini merupakan pendahuluan dari sejarah Kalimantan sebelum timbulnya masa kelam kolonisasi dan kekejaman penjajahan bangsa Barat.

Kemudian untuk Bab Ketiga sampai Ketujuh  diolah dan diramu dari berbagai sumber namun menitik-beratkan kepada buku “PERANG BANJAR” karya Bapak H.G. Mayur, SH. Beliau sendiri secara jujur mengungkapkan bahwa beliau mengambil bahan dari buku “De Bandjermasinsche Krijg” yang disusun oleh Mayor tituler pensiun W.A. van Rees dari Tentara Hindia Belanda. Meskipun demikian referensi lain tetap dipakai secara cermat sehingga tulisan menjadi mengalir dengan lancar. Pada bagian ini tergambar dengan jelas hiruk pikuk heroisme bangsa Dayak didalam memerangi kolonialisme bangsa Belanda di Nusantara khususnya di tanah Banjar yang dampak nyata dari pertempuran puluhan tahun ini berakibat langsung hingga ke pedalaman sungai Barito.

Sedangkan bab terakhir, berpedoman kepada karya Bapak Tjilik Riwut serta tulisan mutakhir lain yang didapat dari Harian Banjarmasin Post dan Tabloid Bebas. Dengan begitu maka buku ini memiliki daya tarik khusus bahkan kejutan yang tidak didapatkan dari buku sejarah lainnya seperti adanya bukti bahwa Panglima Burung adalah Pahlawan Dayak yang gagah perkasa didalam masa kejuangannya dipenghujung periode akhir perang Banjar di hulu sungai Barito di Tanah Dusun.

 

Sampai sekarang Panglima Burung yang di Barito dikenali sebagai “Pahlawan Jihad Barito” adalah wanita yang sangat cantik. Dia memiliki beberapa panggilan akrab oleh masyarakat. “Ada yang menyebutnya “Ilum” atau  “Itak” namun nama  populernya adalah “Bulan Jihad”. Kabarnya, Bulan Jihad memeluk agama Islam dengan perantaraan Gusti Zaleha kawan seperjuangannya.Dan  Gusti  Zaleha  adalah puteri Gusti Muhammad Seman, putera Pangeran Antasari yang memimpin Perang Banjar hingga memasuki  kawasan Barito Utara dan (Barito) Selatan dengan semboyannya “Haram Manyarah, Waja Sampai ka  Puting”.  

Semoga buku sederhana ini bisa menambah wawasan kita didalam menghargai masa lalu bangsa kita yang sedemikian berat dan sangatlah besar.

KERIPIK PUTRI MALU BARITO RAYA PRO YANG PERTAMA DI DUNIA

March 23rd, 2014 | By admin in KEBUDAYAAN | No Comments »

Prolog

Dari http://id.wikipedia.org/wiki/Putri_malupustaka online diperoleh data bahwa Putri malu atau Mimosa pudica adalah perdu pendek anggota suku polong-polongan yang mudah dikenal karena daun-daunnya yang dapat secara cepat menutup “layu” dengan sendirinya saat disentuh. 

Walaupun sejumlah anggota polong-polongan dapat melakukan hal yang sama, putri malu bereaksi lebih cepat daripada jenis lainnya. Kelayuan ini bersifat sementara karena setelah beberapa menit keadaannya akan pulih seperti semula.

 

Tumbuhan ini memiliki banyak sekali nama lain sesuai sifatnya tersebut, seperti makahiya (Filipina, berarti “malu”), mori vivi (Hindia Barat), nidikumba (Sinhala, berarti “tidur”), mate-loi (Tonga, berarti “pura-pura mati”) . Namanya dalam bahasa Tionghoa berarti “rumput pemalu”. Kata pudica sendiri dalam bahasa Latin berarti “malu” atau “menciut”.

 

KERIPIK SASUPAN DANUM

Dalam bahasan daerah di Kalimantan secara umum putri malu disebut sasupan yang arti juga sama yakni pemalu. Dengan demikian tumbuhan perdu jenis ini memang memiliki kemiripan penyebutan namanya yang relatif sama sehingga mudah dikenali dimana-mana.

Namun ada keistimewaan dalam khazanah putri malu di Kalimantan khususnya Kalimantan Tengah terutama di Kabupaten Barito Selatan yakni adanya putri malu yang memiliki ciri daun, bunga dan sifat pemalu yang sama dengan perdu mimosa pudica namun tumbuhnya di air dan hidup merayap seperti kangkung. Tumbuhan inilah yang dikenal dengan Sasupan danum atau sasupan banyu atau putri malu air. 

Sejak lama tumbuhan ini dijadikan sayur dan dimasak dengan nama masakan “Gangan Karuh”  (Bahasan Banjar)  atau “Juhu Keruh”  (Dayak Bakumpai/Ngaju Kapuas). 

Sasupan danum inilah yang dijadikan Keripik oleh juru masak Barito Raya Pro Buntok. Bahan dasar putri malu diperoleh dari danau Keladan di dalam kota Buntok. Pada musim hujan ini pertumbuhannya sangatlah subur sehingga bahan baku keripik menjadi lebih melimpah di pasar Terowongan Buntok.