All Posts in the ‘KEBUDAYAAN’ Category

RESEP KERIPIK PUTRI MALU SAAT SHOOTING TRANS-7 DI BUNTOK

December 13th, 2014 | By admin in KEBUDAYAAN | No Comments »

 

Shooting Trans-7 untuk Laptop si Unyil hari Jum’at tanggal 12 Desember 2014 di Barsel Promo Jalan Panglima Batur Nomor 7 Buntok, menyajikan Keripik Putri Malu dan Tumis Keruh Sasupan Danum.

.

Sekiranya ada yang ingin mencoba Keripik Putri Malu, inilah resepnya:

.

 

 

KERIPIK PUTRI MALU

 

Bahan  / Bumbu

Putri malu dibersihkan, ambil daunnya saja, tiriskan

Tepung beras 500 gram

Tepung kanji 250 gram

Telur ayam 6 biji

Kemiri 10 biji

Bawang putih 1 genggam

Ketumbar 1 sendok makan

Garam 1 sendok makan

 

Air secukupnya, bisa ditambah kapur sirih sedikit

.

 

Cara membuat:

1.Kemiri, bawang putih, ketumbar, garam dan kaldu dihaluskan, campur bersamaan dengan telur

2.Semua bumbu yang sudah hancur dimasukkan ke dalam baskom yang berisi tepung beras dan kanji.

3.Aduk adonan sampai rata sambil dimasukkan air secukupnya

4.Panaskan wajan berisi minyak goreng, tunggu sampai minyak panas.

5.Apabila minyak sudah panas, masukan putri malu yang sudah dicelupkan ke dalam adonan keripik satu persatu sampai permukaan wajan penuh.

6. Goreng sampai matang, angkat dan tiriskan.

 

.

Selamat mencoba. Bagi yang ingin  berkomunikasi bisa kontak ke Barsel Promo, Jalan Panglima Batur Nomor 7 Buntok, Hp. 0813 4960 6504 dengan Syamsuddin Rudiannoor.

KERIPIK PUTRI MALU SHOOTING TRANS-7 DI BUNTOK

December 13th, 2014 | By admin in KEBUDAYAAN | No Comments »

Pada hari Kamis malam sekitar pukul 22.00 WIB rombongan Trans-7 dari Jakarta sebanyak 4 orang tiba di Buntok dan menginap di hotel Mulia Kencana.

Setelah rombongan hunting lokasi di Jalan Padat Karya maka rombongan memutuskan mengambil gambar di sekitar Danau Sadar, desa Baru dan Teluk Telaga.

Sekitar pukul 09.30 WIB pengambilan gambar dimulai dengan sahabat si Unyil pergi ke hutan rawa mencari sasupan atau Putri Malu Air untuk dibuat keripik Putri Malu dan sayur tumis keruh sasupan.

Selesai take gambar di lapangan maka kegiatan dilanjutkan dengan pembersihan putri mnalu dan pemasakan menjadi keripik dan lauk makan di Barsel Promo, Jalan Panglima Batur nomor 7 Buntok.

 

Salam sejahtera untuk kita semua, amin.

 

BUKU NAN SARUNAI USAK JAWA

August 4th, 2014 | By admin in KEBUDAYAAN | No Comments »

 

I

            Buku Daerah Kalteng
No
Judul
Topik Bahasan
Harga buku
1
Sejarah “Nan Sarunai Usak Jawa”
Runtuhnya negara Nan Sarunai oleh agresi Majapahit
Rp. 30.000,-
 

NAN SARUNAI USAK JAWA (Negara Dayak Dihancurkan   Bangsa Jawa)  (1280 – 1700)

Penulis : Syamsuddin Rudiannoor

Katagori : Sejarah Daerah Kalimantan Selatan dan Tengah

Penerbit : Barito Raya Pro Buntok bekerjasama dengan penerbit WR Yogyakarta

Jumlah halaman:    89 halaman

Harga Jual : Rp. 30.000,-

Kualitas cetak: Offset diatas kertas HVS 70 gram

Tahun Penerbitan: Cetakan I Juli 2013

Lokasi Pemasaran: Barsel Promo, Jalan Panglima Batur Nomor 7 Buntok

Kontak telepon/sms: 0813 4960 6504

Buku sederhana ini merupakan sejarah lokal yang ditulis oleh Syamsuddin Rudiannoor dengan proses pengumpulan bahan sejak tahun 1995 sampai 2002.

Bagian Pertama buku ini telah dimuat oleh surat kabar Palangka Raya “Media Kalteng” dalam edisi antara tanggal 27 Juni  sampai dengan 4 Agustus 2002.

Nan Sarunai Usak Jawa merupakan proses panjang keberjalanan sejarah masa lalu suku Dayak Maanyan yang dimulai sejak domisili mereka yang paling awal di Murung (Ujung Murung) Banjarmasin sekitar tahun 1200.

Setelah Banjarmasin ditinggalkan diteruskan ke Kayu Tinggi (Kayu Tangi) di sekitar Banjarbaru-Martapura, sampai akhirnya jejak berhenti sebentar di Kedaton Tane Ngamang Talam di sekitar Candi Agung (Tumpuk Uhang) di kota Amuntai.

PUNAKAWAN DALAM SATIRE DAYAK BESAR (Wayang Buntok)

July 8th, 2014 | By admin in KEBUDAYAAN | No Comments »
 

RESENSI BUKU

Penulis : Syamsuddin Rudiannoor

Katagori : Kumpulan cerita pendek versi wayang lokal Kalimantan Tengah

Penerbit : Barito Raya Pro Buntok bekerjasama dengan Penerbit WR  Yogyakarta

Jumlah halaman :  366 halaman

Harga jual: Rp. 120.000,-

Kualitas cetak: Offset diatas book paper

Tahun Penerbitan: Cetakan I  September 2013

Lokasi Pemasaran: Barsel Promo, Jalan Panglima Batur Nomor 7 Buntok

Kontak telepon/sms:      0813 4960 6504

WAYANG BUNTOK…, hah APAAN TUH..?

Antara tahun 1968 sampai 1975, Buntok masih kota sangat kecil yang sederhana. Kala itu sarana informasi rakyat yang paling moderen baru berupa pesawat radio dan sedikit tape recorder. Tidak ada pesawat televisi. Listrik masih belum PLN.  Mobil masih tidak ada. Sepeda motor termasuk vesva masih berbilang jari. Siaran RRI merupakan siaran idola seluruh rakyat. Dus, dalam suasana seperti itu, tumbuhlah saya sebagai seorang anak bawang berusia 5 sampai 12 tahun.

            Dalam kebersahajaan hidup Buntok tahun-tahun tersebut, terkenanglah saya akan  jasa almarhumah nenek saya Jawiah binti Lelang bin Karuang bin Rangkau. Kenapa demikian? Karena dari mulut tua beliau, saya mendengar secara berulang-ulang banyak kisah atau ceritera rakyat yang cukup variatif pokok bahasannya. Pendeknya, ada ceritera kancil dan pak tani. Ada kisah kura-kura dan burung pelatuk. Ada Sangumang dan keluarganya. Ada kisah Batara Gangga. Ada ceritera Supak dan Gantang. Dan yang terakhir saya ingat adalah kisah lucu yang beliau namakan Babagongan  atau  Wayang Epat.

            Kembali ke suasana Buntok tahun 1968-1975, hiburan rakyat yang hidup kala itu adalah musik-musik RRI plus sedikit seni  tradisional. Dan salah satu seni tradisi itu adalah  pagelaran pentas wayang kulit. Terus, wayang kulit yang dimaksud adalah Wayang Banjar (atau  wayang Jawa yang dimainkan oleh orang Banjar (?)). Pendek kata, seni yang dominan dimainkan di pahuluan Barito kala itu adalah seni pesisir yang dibawa orang Banjar. Sampai kemudian, tercatat ada dua*) orang lokal yang berhasil menyalin kaji dan menjadi dadalang wayang Banjar, meskipun kualitasnya terbilang prematur bila harus tega dibandingkan dengan dalang Jawa atau Paguruannya dari Banjar. Namun anehnya, justru kelahiran prematur dalang  Buntok berikut kualitasnya yang diragukan, malah melahirkan wayang baru yang tak kalah unik, minimal setelah kisah wayang itu dituturkan kembali oleh nenek saya Jawiah binti Lelang kepada saya sebagai  cucunya.

            Ilustrasinya mungkin begini. Ketika wayang asli atau wayang India (berhasil dan atau gagal) diadopsi orang  Jawa, orang  Jawa menciptakan wayang baru yang sesuai dengan kejawaannya. Oleh karena itu, tidak heran kalau kemudian wayang asli mendapat anggota baru (putera daerah Jawa) seperti Wisanggeni, Ontoseno sampai Punakawan alias Kiyai Semar dan anak-anaknya. Meskipun skenario ceritera tetap kisah India sejati  tapi sudah ada sisipan  muatan lokal akibat bakincahnya para aktivis pendatang baru tadi.  Lalu tatkala wayang India telah benar-benar (diakui) menjadi Wayang Jawa Asli, kala itulah  wayang  “diambil” oleh Urang Banjar  sesuai kemampuannya. Hasilnya, keruwetan kisah India yang masih  “mampu” dipertahankan Wayang Jawa, mulai “gagal” dilidah Dalang Banjar. Siapa waruh siapa tambuk? Dari perkembangan selanjutnya, malah dalam beberapa kasus  wayang Banjar yang main di Buntok, bawayang justru kian menonjolkan sisipan Punakawannya saja daripada pakem asalnya. Terus, ketika wayang India yang telah di-Jawa-kan lalu di-Banjar-kan itu sampai juga ke Buntok, permintaan  pasar  atau selera rakyat Buntok yang sederhana justru “hanya” menantikan Punakawan saja dalam khasanah bawayang mereka. Sampai kemudian, karena keranjingan Punakawan berikut akibat  kegagalan nenek saya dalam mencerna lakon pewayangan, malah mematok kavling pewayangan baru dilingkungan keluarga kami. Itulah yang oleh nenek saya dinamakan Babagongan atau Wayang Epat. Artinya, bawayang bagi nenek saya hanyalah Lalakun Punakawan saja, dimana pemain utamanya adalah  si  endek  Bagong  Jambulita.

 

ARTIS WAYANG BUNTOK CUMA EMPAT, Plus…

            Kalau asalnya bawayang lakon utamanya adalah orang  India dan  kisah India, yang ketika di Jawa ‘bertemu’ Punakawan sebagai sisipan. Justru di Buntok lakon utamanya adalah Punakawan. Keterbatasan nenek saya dalam menyerap dan menceriterakan kembali kisah wayang kepada saya akhirnya malah mematok bahwa lakon utama wayang adalah Bagong plus ayahnya  Semar berikut kakaknya Petruk Onta dan Nala Gareng. Barulah kemudian artis Babagongan yang empat itu yang ketemu wayang-wayang lain dalam perjalanan hidup mereka yang penuh liku-liku. Artinya, telah terjadi pemutar-balikan rambu-rambu dan ideologi pewayangan di Kampung Buntok. Dan anehnya, revolusi itu justru terjadi di Buntok di lidah nenek saya Jawiah binti Lelang bin Karuang bin Rangkau yang buta huruf dan buta wayang.

            Mungkin timbul pertanyaan, kenapa Babagongan atau Wayang Epat yang menyimpang justru ditampilkan kedepan? Jawabannya singkat saja. Saya hanya ingin menampakkan bahwa Babagongan atau Wayang Epat merupakan wayang khas Kalimantan Tengah yang mudah-mudahan dapat menjadi pilar seni budaya nasional. Ini yang pertama. Kedua, lewat  Baba­gongan saya ingin menjadikannya jembatan informasi yang dapat dibaca oleh Pemerintah dalam arti luas dan masyarakat pada umumnya. Karena apa? Sebab cukup banyak dinamika dalam masyarakat Kalteng yang mungkin belum sempat dibaca oleh pemerintah. Atau sebaliknya, cukup banyak informasi dari pemerintah yang kurang sampai kepada  rakyatnya. Singkatnya, kiranya Babagongan ini dapat menjadi sarana silaturrahim non formal  dalam bermasyarakat dan berpemerintahan di Propinsi Kalimantan Tengah, sebab seluruh isi dan kulit dalam lalakun Babagongan yang ditampilkan diusahakan semaksimal mungkin menyerap dinamika masyarakat Kalimantan Tengah yang sedang  aktif bergerak maju.

            Selamat menikmati….

 

*)         Dua orang lokal yang berhasil menjadi Dalang Wayang Banjar itu adalah Kai Pa’ Baer (Kumis Saililah) dan  Julak  Pa’ Anen (Juri).

Apa dibalik lagu “Geef mij maar nasi goreng”

April 11th, 2014 | By admin in KEBUDAYAAN | No Comments »

Judul diatas adalah judul lagu orang Belanda yang versi aslinya dibawakan oleh Wieteke Van Dort, orang Belanda yang lahir di Surabaya. Lagu ini bercerita tentang kerinduannya terhadap makanan-makanan Indonesia ketika dia sudah pulang dan berada di Belanda. 
.
Beginilah enaknya jadi penjajah. Ketika sudah pulang ke kampung halaman di Netherland maka segala yang dulunya dihina sebagai makanan kaum rendahan ternyata berubah menjadi kerinduan. Aduh mak, dia rindu nasi goreng, onde-onde, tahu petis, lumpia, sate babi, juga bakpao. Apakah dia lupa kalau banyak dari berbagai makanan Indonesia itu tercipta dari pedihnya dijajah? Bayangkan saja nasi goreng. Tidakkah nasih goreng tercipta karena Tuan Belanda tidak kasih ikan dan sayuran kepada pembantunya yang inlander sehingga dengan kecerdikannya maka si bibi atau mbok jongos harus menggoreng nasi sisa majikan dengan minyak jelantah bekas.
.
Nasi goreng memang enak, tapi apakah berasal dari sejarah yang enak juga? Kalau dia rindu Indonesia, apakah rindu karena sayang ataukah rindu karena ingin menjajah dan menghina lagi? Ingatlah juga dengan sejarah lahirnya tahu dan tempe. Tidakkah tahu dan tempe tercipta karena kaum tawanan Inlander tidak dikasih lauk oleh Saudara Tua dari Negeri Matahari. Terpaksa apa yang ada direndam sampai busuk lalu dimasak sampai akhirnya jadilah makanan yang terpaksa dimakan.
.
Ketika saya membuat resensi buku “Gigir Gampar Barito Raya, Amuk 1860-1905”, lagu nasi goreng itu terdengar oleh saya. Hati saya terasa lain, kenapa? Betapa sangat enaknya noni Belanda itu minta makan nasi goreng, sedangkan orang-orang kami disini, jangankan nasi goreng, makan “nasi basanga” pun tidak tentu bisa setahun sekali. Ketika bapak-bapak mereka yang opas mengejar kakek-nenek kami dari kampung ke kampung, habis harta benda kami dirampoknya. Enak saja dia makan nasi goreng dan ketan dan onde-onde sedangkan kami disini tidak punya apa-apa untuk dimakan. Apakah kekejaman semacam ini bisa terhapus hanya dengan lagu Nasi Goreng yang terkenal…? 
.
Wieteke Van Dort sang penyanyi, memang menjadi terkenal dengan lagu-lagunya “Geef mij maar nasi goreng” bahkan juga “Burung Kakaktua” dan “Nina Bobo”, namun apakah dia juga terkenal sebagai Noni yang rendah hati karena mau meminta maaf kepada para jongos dan para pembantu Tuan Kompeni yang menciptakan nasi goreng itu? 
Toen wij repatrieerden uit de gordel van smaragd
Dat Nederland zo koud was hadden wij toch nooit gedacht
Maar ‘t ergste was ‘t eten.
Nog erger dan op reis
Aardapp’len, vlees en groenten en suiker op de rijst
Geef mij maar nasi goreng met een gebakken ei
Wat sambal en wat kroepoek en een goed glas bier erbij
Geef mij maar nasi goreng met een gebakken ei
Wat sambal en wat kroepoek en een goed glas bier erbij
Geen lontong, sate babi, en niets smaakt hier pedis
Geen trassi, sroendeng, bandeng en geen tahoe petis
Kwee lapis, onde-onde, geen ketella of ba-pao
Geen ketan, geen goela-djawa, daarom ja, ik zeg nou
Ik ben nou wel gewend, ja aan die boerenkool met worst
Aan hutspot, pake klapperstuk, aan mellek voor de dorst
Aan stamppot met andijwie, aan spruitjes, erwtensoep
Maar ‘t lekkerst toch is rijst, ja en daarom steeds ik roep